JAKARTA – Misbahul Arifin, seorang penerima manfaat beasiswa disabilitas, Bakti Nusa Angkatan 09 di Universitas Sebelah Maret sudah sejak kelas 5 SD, merasakan peglihatannya berkurang.
“Walau saat lahir penglihatan saya normal, sedikit demi sedikit, jarak pandang berangsung kabur, hingga medis mengatakan bahwa saya mengalami kebutaan permanen,” ujarnya, seperti dikutip dari laman instagram Dompet Dhuafa.
“Sulit rasanya untuk menerima, bahkan tak jarang menjadi bahan bully teman-teman. Saya sempat berkecil hati, kehidupan saya seakan berubah 360 derajat,” ujarnya lagi.
Namun, ddia bersyukur karena sang Bapak selalu memberikan nasihat, bahwa kita harus melihat orang yang di atas kita, lebih pintar, bisa ngaji dan berprestasi. Awalnya nasihat itu berlalu begitu saja, namun lama kelamaan, nasihat itu seakan terbukti.
Misbahul yang sering ikut ngaji dengan Bapak dan sedikit demi sedikit juga dibimbing menghafal qur’an, semakin hari semakin bersemangat menjadi penghafal qur’an hingga dia memiliki target menyelesaikan hafalan sebelum sarjana.
“Berbagai metode menghafal saya coba terapkan, tak jarang menggenggam smartphone, untuk mendengarkan MP3 murrotal guna membantu menghafal qur’an.”
Dengan kondisinya yang tidak bisa melihat, dia selalu yakin dan optimis bisa menhafal al quran.
“Alhamdulilah, sebelum lulus sarjana, saya sudah menyelesaikan hafalan 30 juz. Saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Sebelas Maret di Fakultas Pendidikan Luar Biasa,” ungkapnya.
Ke depannya, dia ingin bisa menjadi penghafal qur’an yang punya integritas, menyajikan al-quran di khalayak orang banyak, dan kini dia sudah diamanahkan untuk berbagi cerita di berbagai sekolah dan Universitas.





