Tidak Merokok Itu Hebat!

ilustrasi: pembahasan rokok di DPR

GARA-gara pembahasan RUU rokok,  Ketua DPR pun bisa kesodok. Itulah nasib Ade Komarudin, yang baru menjabat 11 bulan di Senayan. Ternyata rokok tak hanya membunuh atau menghilangkan jiwa manusia, tapi juga bisa membunuh karier seseorang. Maka sesungguhnya yang hebat itu bukan saja yang berani jujur sebagaimana kata KPK, tapi juga bagi mereka yang berani tidak merokok. Berani jujur menyelamatkan harta negara, berani tidak merokok menyelamatkan isi kantong sekaligus “si entong”.

Apakah bedanya antara rokok dengan kambing? Ya jelas bedalah! Dari bentuk phisiknya saja sudah kelihatan, yang satu barang yang satunya lagi binatang. Itu jawaban orang yang ogah mikir. Yang benar adalah; kambing bila diumbar (dilepas) bisa gemuk, tapi rokok diumbar malah ludes! Lihat saja dalam setiap pertemuan antar RT-RW, atau ketika ronda sambil main gaple; rokok yang diumbar di atas meja dalam sekejap akan tinggal bungkusnya saja.

Rokok itu memang kegemaran lintas kelamin. Laki, perempuan, bencong dan GLBT; semua doyan rokok. Karena rokok itu katanya jembatan pergaulan. Dan faktanya, memang ada juga perempuan siap digauli hanya karena rokok. Sebab di era gembalisasi ini, wanita merokok sudah menjadi pemandangan yang biasa. Maka ketika motivator Mario Teguh bilang: jangan ambil istri seorang wanita perokok, langsung habis di-bully di jagad medsos.

Nilai-nilai moral memang sudah banyak bergeser. Almarhum sastrawan Jawa Suparto Broto dari Surabaya pernah cerita. Sewaktu muda dia tidak merokok. Tiba-tiba sang mertua dari Purworejo langsung mengeritiknya, “Wong lanang kok ora ngrokok, kaya wong wedok (lelaki tidak merokok seperti perempuan)!” Demi menghormati ibu mertua, terpaksalah dia merokok. Tak jelas kemudian, ketika sang pengarang itu kembali tidak merokok hingga akhir hayatnya, apakah karena kedua mertuanya sudah meninggal.

Belum lama ini masalah perokokan jadi heboh. Masalahnya, Hasbullah Thabrany Kepala Pusat Kajian Ekonomi serta Kebijakan Kesehatan mengusulkan, untuk mengurangi konsumsi rokok, sebaiknya harga rokok dinaikkan menjadi Rp 50.000,- sebungkus. Banyak yang protes. Di samping mematikan petani tembakau, juga akan bikin bangkrut pabrik rokok. Bahkan di Banyumas, nantinya jarang orang omprong-omprong bacot (merokok) gara-gara aturan ini.

Rokok selama ini memang menjadikan pemerintah mendua dalam kebijakan pertembakauan. Di satu sisi pajak dari cukai rokok sangat menggiurkan, tapi di satu sisi rokok juga membunuh rakyatnya. Pendapatan negara tak sebanding dengan pengeluaran untuk merehabilitasi pengidap rokok. Maka UU rokok tak pernah kunjung selesai di DPR, karena targetnya kemudian hanyalah mencari jalan tengah. Padahal gara-gara “jalan tengah” perundang-undangan itulah akhirnya Ketua DPR pun harus “minggir”.

Pemerintah seakan kehabisan akal untuk menyadarkan rakyat. Menkes Prof. Dr. Adyatma Mph  pernah mewajibakan setiap bungkus rokok ditulis peringatan bahaya merokok, dari hipertensi sampai impotensi (bagi “si entong”). Tetapi tak ditakuti masyarakat juga. Menkes dr Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, menakut-nakuti dengan gambar-gambar mengerikan akibat penyakit rokok, tapi tak digubris juga. Bahkan perokok berbangga diri. Katanya, “Dengan merokok sama saja telah menyumbang APBN yang tekor melulu.”

Pakar kesehatan mengatakan, sebatang rokok mengurangi umur satu menit. Bagi penggemar, ah mbelgedes (omong kosong) teori itu. Buktinya Mbah Gotho dari Sragen, gemar merokok sedari kecil, sampai usia 145 tahun sekarang masih sehat-sehat saja. Bahkan ketika penggemar rokok  dinasihati sahabat bahwa merokok bikin melarat, jawabnya kemudian, “Kamu sendiri tidak merokok juga tidak kaya.” Makanya, berani tidak merokok itu hebat! (Cantrik Metaram).

Advertisement