Tiga Serangkai di Kabinet

Erick Tohir,Sandiaga Uno, M. Lutfi, semasa kuliah di AS ketiganya berteman, dan kini menjadi "tiga serangkai" dalam KIM jilid II.

RABU lalu Presiden Jokowi mereshufle kabinetnya, menyusul dua menterinya yang dikandangi KPK. Dengan masuknya 6 menteri baru di Kabinet Indonesia Maju (KIM) jilid II ini, banyak kejadian unik, lucu, bahkan dikatakan sebagai kabinet Capres 2024. Soalnya di situ ada “tiga serangkai” yang berteman di kala kuliah di AS, ada menteri yang tak sesuai disiplin ilmunya, sementara sejumlah nama juga masuk bursa Capres 2024 versi lembaga survey.

Sejak Menteri KKP Edhy Prabowo dan Mensos Juliari Batubara ditangkap KPK karena kasus korupsi, Presiden Jokowi terpicu untuk segera mereshufle KIM jilid II. Maka pada Rabu 23 Desember lalu itu, 6 menteri dicopot. Menteri KKP diganti oleh Wisnu Trenggono, Mensos dipercayakan pada Tri Rismaharini, Menperdag dari Agus Suparmanto ke M. Lutfi, Menkes dari Agus Terawan Putranto ke Budi Gunadi Sadikin (BGS), Menag Fachrul Razie kepada Gus Yaqut Cholil Coumas dan Menparekraf dari Wishnutama kepada Sandiaga Uno.

Menteri yang bikin tertawa mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan adalah BGS. Sepanjang sejarah Republik, baru kali ini Menkes bukan berlatar belakang dokter. BGS memang tak pernah berkalung stateskop dan suntik pasien, tapi jago menejemen karena dia sudah malang melintang di dunia perbankan. Dan Dahlan Iskan memahami, jadi Menkes Jokowi diutamakan menegerialnya, bukan pakar kesehatannya.

Lalu Sandiaga Uno yang bau pete (pernah berkudung seombyok pete) mantan Wagub DKI dan Cawapres kini menggantikan Wishnutama. Baru dilantik langsung dapat petunjuk Wapres Ma’ruf Amin untuk meluncurkan program wisata halal. Hal ini langsung menimbulkan pro kontra, baru menjabat Sandiaga Uno sudah dianggap akan mengkotak-kotak bangsa lagi.

Yang menarik dari sosok ini, mungkin dia menyesal pasca menjadi Wagub dan Cawapres. Sudah habis puluhan miliar dari koceknya, tapi jadi Wagub DKI hanya seumur jagung, dan jadi Wapres juga gagal. Sedangkan jadi menteri Jokowi, sama sekali tak keluar ongkos. Untungnya dia menteri yang beraset Rp 5 triliun, sehingga hilang uang puluhan miliar mah kecil!

Paling unik adalah, masuknya Sandiaga Uno bersamaan dengan M. Lutfi sebagai Menperdag, secara tak sengaja telah menciptakan “tiga serangkai” dalam KIM. Karena ketiganya sekitar 31 tahun lalu pernah berteman di AS saat sama-sama menjadi mahasiswa di negeri Paman Sam. Dan ketika Presiden Jokowi mereshufle kabinetnya, Allah Swt mempersandingkan ketiganya menjadi menteri dalam periode yang sama.

Demikian juga Mensos Tri Rismaharini, dia yang tak pernah bermimpi jadi menteri, tiba-tiba ditunjuk Jokowi menggantikan Juliari Batubara. Di sinilah keunikannya, dia dari Walikota naik jadi menteri. Sedangkan Khofifah Endar Parawansa, sudah enak-enak jadi Mensos malah pilih turun jabatan jadi Gubernur Jatim. Entah apalah yang dicari. Tapi mungkin itu obsesi atau “dendam” masa lalu Khofifah, karena 2 kali kalah lawan Pakde Karwo.

Pengangkatan Gus Yaqut Cholil Caoumas juga sebuah kejutan. Isyu santer sebelum pengumuman kabinet, Menagnya adalah Yahya Staquf putra Kiyai Cholil Bisri. Ternyata yang jadi justru nggecet (meleset) ke adiknya, Yaqut Cholil Qoumas. Banyak yang mengapresiasi dianya, sebab sebagai Ketua GP Ansor/Banser dia paling berani menghadapi FPI. Tapi ketika dia punya rencana hendak mengafirmasi (mengakui) Syiah dan Ahmadiyah, MUI pun langsung mengernyitkan dahi.

Yang kasihan adalah mantan Menag Fachrul Razie. Sudah kadung mengangkat Habib Lutfi dari Pekalongan untuk menjadi penasihatnya, tahu-tahu diganti. Jadi otomatis dia tak bisa lagi menikmati nasihat Habib Lutfi untuk dirinya, karena sudah bukan Menag lagi. Dan Menag baru ini perlu mendengarkan nasihat Habib Lutfi, karena hendak mengafirmasi aliran Syiah dan Ahmadiyah.

Paling unik adalah, Prabowo dan Sandiaga Uno adalah penantang Jokowi di Pilpres 2019, tapi kini keduanya sudah ditaklukkan pula untuk masuk dalam kabinetnya.Kalangan pengamat pun menilai, kabinet Jokowi kali ini adalah kabinet Capres 2024. Sebab banyak di antara mereka yang menurut sejumlah lembaga survei punya elektabilitas lumayan. Selain Prabowo, Sandiaga Uno, juga Erick Tohir.

Bisa juga itu semua merupakan strategi Jokowi-PDIP agar keduanya melupakan atau tak sempat menyiapkan diri dalam Pilpres 2024. Karenanya ada pengamat politik yang menyebut Jokowi jago bermain catur. Jika ini dianggap permainan catur, maka Prabowo dalam KIM masih bergaya seperti kuda di bidak catur itu. Lewat Fadli Zon kader andalannya di Gerindra, dia terus mengkal (nendang-nendang) dalam barisan pemerintahan Jokowi. Sudah dikasih penghargaan bintang Mahaputra Nararya, masih  juga mengkritisi dan menyinyiri. (Cantrik Metaram).

 

Advertisement