Tiket Pesawat Rp 24 Juta

Macet di tol Cikampek pada H-6 Lebaran. Tapi sepertinya mudik tampa macet jadi tidak afdol.

PERUSAHAAN jasa trasportasi selalu manfaatkan Lebaran sebagai bisnis yang sangat menguntungkan. Kereta api, bis malam sampai pesawat cari untung sebanyak-banyaknya, mengurus kantong orang kota yang hendak pulang kampung. Paling gila, tiket pesawat Jakarta – Makasar bisa sampai Rp 24 juta, sementara Bandung – Medan dibanderol Rp 21 juta. Gara-gara harga tiket yang mencekik leher rakyat, penumpang pelarian dari pesawat ini ikut berandil macetkan jalur-jalur tol ke arah Jateng-Jatim dan Sumatera. Kesannya percuma saja pemerintah membangun jalan tol sampai ke mana-mana, dan macet menjadi menu setiap mau Lebaran.

Sejak tahun 1980-an, orang mudik Lebaran terkena macet. Jaman itu tol baru ada Jagorawi. Kemudian dibangun tol Jakarta – Cikampek (1988), tapi macet mudik Lebaran tetap menjadi menu tahunan. Bahkan ketika sudah dibangun tol Padalarang-Cileunyi (1991),Cikampek-Padalarang (2005), dan tol-tol lain di Jateng dan Jatim; kemacetan menjadi rutinitas mudik dan arus balik.

Konsep transportasi era Orde Baru memang sudah salah dari sononya. Mestinya yang dikembangkan KA, bukan jalan tol. Dengan jalur KA diperbanyak, niscaya orang dipaksa untuk lebih banyak menggunakan KA. Yang terjadi, membangun tol di mana-mana justru merangsang orang untuk beli kendaraan pribadi. Di sinilah terjadi simbiosis mutualis, karena penguasa bikin jalan tol, saudara penguasa pun bikin pabrik semen. Saling menguntungkan bukan?

Namun ironisnya, meski sudah begitu banyak jalur tol, bahkan tol Trans-Jawa Anyer – Panarukan kini sudah sampai Probolinggo, tapi kemacetan tak bisa dihindari. Sekedar contoh pada hari H-6 kemarin, diberitakan sudah terjadi kemacetan di sana-sini, baik ke arah Sumatera mapun Jateng-Jatim.

Naiknya tarif pesawat sampai 120 %, juga punya andil atas kemacetan jalan tol. Sebab penumpang yang biasanya pakai pesawat, sekarang menghemat dengan naik kendaraan umum maupun pribadi. Memang pemerintah telah memaksa maskapai turunkan tarif 15 persen, tapi kagak ngefek. Dipaksa turunkan lagi, mana mau maskapai. Ibarat kata penurunan sampai 15 persen itu sudah mentok gardan.

Hanya sampai di situ perjuangan Kemenhub membela rakyat kecil berkantong kecil. Dan ketika harga tiket pesawat sekarang ini sampai di atas Rp 20 juta, pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Kalau mampu silakan beli, kalau tidak mampu ya jangan naik pesawat. Bayangkan, seperti diberitakan kemarin, untuk penerbanangan Jakarta – Medan dibandrol Rp 21 juta, sementara Jakarta-Makasar Rp 24 juta.

Masalahnya, penumpang diajak puter kayun ke mana-mana dulu. Yang tujuan Makassar, diajak terbang “gratis” ke Papua dulu, baru ke kota tujuan. Paling konyol yang tujuan Medan, harus diajak terbang ke Denpasar dulu, baru ke Medan. Apa maskapainya lupa peta Ilmu Bumi, kan Medan itu posisinya Indonesia bagian kulon, kenapa harus muter-muter ke arah timur dulu? Kata pengamat penerbangan Alvin Lie, tarif gila-gilaan itu bukan maunya maskapai, melainkan kiat biro perjalanan agar dapat pesanan tiket lebih banyak.

Pemerintah sudah berusaha maksimal untuk melayani pemudik, sehingga jadi Lebaran ceria. Untuk mengatasi kemacetan tol misalnya, dari jalur ke timur dibikin searah, ganjil genap,  bahkan  diprediksi hindari sini, hindari sono. Pasar tumpah dilarang operasi dulu dengan kompensasi dari Pemda. Namun faktanya , yang namanya macet ketemu juga. Sepertinya macet sudah menjadi rukunnya orang mudik. Tanpa macet, rasanya jadi kurang afdol.

Biasanya terjebak macet sampai berjam-jam orang jadi stress. Tapi khusus pemudik, kemacetan itu dinikmati dengan gembira. Dorongan untuk ketemu sanak saudara di kampung menjadi menafikan segala resiko, termasuk kecelakaan lalulintas yang sampai merenggut nyawa. Kata polisi, sampai H-6 sudah tercatat 6 orang tewas saat mau mudik. Tragis, mau pulang kampung malah jadi pulang ke akhirat lebih cepat. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

Advertisement