
TIMOR Leste atau Tmor Loro Sae (negeri terbitnya matahari) sejak melepaskan diri dari RI pada 2002 belum beranjak dari jeratan kemiskinan, dan saat ini juga harus bergelut melawan pandemi Covid-19.
Negara terbungsu di antara 11 negara anggota ASEAN yang bertetangga dengan Provinsi NTT ini, menurut laporan Program Pembangunan PBB (UNDP) menempati peringkat ke-152 atau termiskin kesepuluh dari 162 negara di dunia.
Bandingkan pendapatan PDB per kapita Timor Leste 2019 sebesar 2.356 dollar AS (sekitar Rp34,2 juta) atau sekitar separuh PDB per kapita Indonesia sebesar 4.175 dollar AS (sekitar Rp60 juta).
Sektor perekonomian negara berpenduduk sekitar 1,04 juta jiwa tersebut juga masih sangat tergantung dari tetangganya di seberang, Australia dan juga Indonesia terutama untuk pasokan bahan keperluan sehari-hari.
Mimpi besar presiden pertama Timor Leste dan juga pernah menjadi perdana menteri, Xanana Gusmao untuk meraup devisa dari pengambil alihan saham ladang minyak dan gas Greater Sunrise sementara terkubur karena anjloknya harga migas di tengah pandemi Covid-19.
Ladang lepas pantai yang 70 persen berada di perairan Timor Leste dan 30 persen di perairan Australia dengan cadangan lebh dari 141,5 milyar M3 gas alam dan 226 juta barel minyak sebelum pandemi bernilai 50 milyar dollar AS.
Sukses mengambil alih saham Greater Sunrise dari perusahaan multinasional ConocoPhillips dan Shell senilai 650 juta dollar AS,pemerintah Timor Leste menguasai 57 persen saham, selebihnya 33 persen dipegang Woodside Petroleum Australia dan 10 persen Osaka Gas, Jepang.
Untuk investasi proyek ekspolitasi migas bernama Tasi Mane (Laut Selatan) itu, Xanana masih memerlukan 16 milyar dollar AS lagi yang semula akan dipinjam dari Bank Exim AS, namun kemudian menarik diri karena hitung-hitung prospeknya tidak masuk.
Xanana yang kini sudah tidak berkuasa lagi mungkin harus menerima tawaran China yang kabarnya berminat dengan syarat pemerintah Timor Leste mengijinkan pembangunan pangkalan AL di sana yang penting dari sisi geostrategis negara tirai bambu itu.
Sebaliknya, jika itu terjadi, tentu saja membuat Australia cemas, seperti pandangan yang disampaikan salah senatornya, Rex Patrick, Australia harus mempertimbangkan mendukung proyek Tasi Mane jika tidak ingin Timor Leste jatuh ke pelukan China.
Namun mantan presiden dan peraih hadiah Nobel, Ramos Horta menilai kecemasan Australia tidak beralasan, karena menurut dia, “perjuangan keras negerinya selama 24 tahun melawan RI mengajarkan arti kemerdekaan sesungguhnya.
Waktu lah nanti yang akan berbicara, langkah  yang diambil oleh pemimpin Timor Leste  untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi negerinya. (Reuters/ns)




