Timur Tengah Kembali Membara

Milisi Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang kilang minyak Abqaiq dan Kuraish, Arab Saudi yang dikelola perusahaan AS Aramco hingga terbakar dengan sejumlah drone, Sabtu lalu (14/9).

ESKALASI konflik di kawasan Timur Tengah yang memang penuh dengan bara permusuhan dan kepentingan meningkat lagi akibat serangan terhadap kilang minyak Abqaiq dan Khurais, Arab Saudi (14/9).

Asap hitam tebal tampak menyelimuti kilang minyak Abqaiq di tayangan TV Saudi Sabtu pagi waktu setempat, namun tidak disebutkan detil kerusakan dan kerugian yang diderita selain disebutkan oleh otoritas Saudi bahwa lima juta barel prouksi minyak atau setara dengan separuh produksi minyaknya atau lima persen dari produksi minyak dunia terganggu.

Menurut catatan, Abqaiq adalah kilang minyak terbesar di dunia yang mampu memompa tujuh juta barel minyak bumi per hari dari perut bumi yang dikelola Saudi bersama perusahaan Aramco, AS, sedangkan lapangan minyak di lokasi kedua kilang tersebut diperkirakan memiliki 20 milyar barel cadangan minyak.

Milisi Houthi dukungan Iran di Yaman mengklaim sebagai pihak bertanggungjawab melakukan serangan itu dengan 10 pesawat drone (nirawak) dan mengingatkan rezim Saudi agar menghentikan campurtangannya dalam konflik Yaman.

Saudi semula bermitra dengan Uni Arab Emirat (UEA) berperang di pihak rezim petahana Yaman pimpinan Abdurabuh Mansur Hadi melawan milisi suku Houthi yang didukung Iran.

Kolaborasi UEA dan Saudi dalam konflik yang sudah berlangsung sejak 2015 ambruk beberapa bulan lalu karena penolakan UEA terhadap kelompok Ichwanul Muslimin yang dilarang di negeri para emir itu dalam kemitraan mereka.

Pasca putus kongsi kedua negara Arab kaya tersebut dalam konflik Yaman, satuan milisi yang didukung UEA berada di atas angin dan akhir Agustus lalu berhasil mendepak pasukan koalisi loyalis Mansur Hadi dan Arab Saudi dari kota pelabuhan strategis, Aden.

Houthi sendiri sejauh ini sudah mengirimkan lebih 200 rudal balistik diduga buatan Iran yang dimodifikasi dari rudal-rudal eks-Rusia ke sejumlah saran di wilayah selatan Saudi seperti Bandar Abha, kota Jeddah dan Thaib.

Sebelumnya, serangan-serangan rudal Houthi mampu ditangkal oleh Saudi yang didukung sistem pertahanan udara canggih buatan AS seperti Sistem Pertahanan di Ufuk Tinggi (Therminal High Altitude Area Defence -THAAD) dan Patriot buatan AS, paling-paling mengakibatkan kerusakan kecil.

Sistem pertahanan rudal THAAD memiliki jangkauan radar amat luas untuk melacak lintasan dan menghancurkan rudal lawan nya dengan rudal anti rudal melalui tumbukan kinetik, tanpa hulu ledak seperti sistem yang digunakann rudal-rudal umumnya.

Saudi dilaporkan membeli 40-an unit sistem THAAD tahun lalu dengan nilai kontrak Rp215 triliun atau setara dengan dua kali belanja militer RI setahun. Sedangkan rudal-rudal anti rudal Patriot yang digunakan Israel dinilai sukses menghancurkan rudal-rudal balistik yang ditembakkan Irak pada era Perang Teluk pertama pada 1990.

Menlu AS, Mike Pompeo menuding serangan ke kedua kilang Saudi Sabtu lalu dilakukan oleh tangan Iran sendiri, sementara Menlu Energi AS Rick Perry mengemukakan, negaranya siap menggelontorkan cadangan minyaknya Jika stabilitas pasar dunia terganggu akibat kejadian itu.

Perebutan hegemoni kawasan antara Iran dan Saudi, juga kini Saudi dan UEA dan kepentingan AS, membuat konflik Yaman sejak 2015 yang telah menewaskan lebih 70 ribu orang dan membuat sepertiga dari 29 juta penduduknya kelaparan belum ada tanda-tanda usai. (AP/Reuters/ns)

Advertisement