NEW YORK – Tingkat kelaparan global telah meningkat untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade, dimana telah mempengaruhi 11 persen populasi dunia, akibat konflik dan perubahan iklim.
Tahun lalu, 815 juta orang hidup dalam kelaparan, angka tersebut 38 juta lebih banyak dari pada tahun 2015, seperti diungkapkan badan PBB.
Jumlah kelaparan mulai meningkat pada tahun 2014, tapi ini adalah pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade bahwa proporsi populasi global yang kelaparan telah meningkat.
Sekitar 489 juta orang lapar tinggal di negara-negara yang terkena dampak konflik.
“Selama dekade terakhir, konflik telah meningkat secara dramatis dan menjadi lebih kompleks dan sulit diatasi,” kata lima pejabat badan PBB dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2017.
“Ini telah memicu lonceng alarm yang tidak dapat kami abaikan. Kami tidak akan mengakhiri kelaparan dan segala bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030 kecuali jika kami menangani semua faktor yang melemahkan ketahanan pangan dan gizi,” kata mereka.
Kelaparan melanda bagian Sudan Selatan awal tahun ini, dan ada risiko tinggi bahwa hal itu bisa kembali ke sana dan berkembang di negara-negara lain yang terkena dampak konflik yakni Nigeria timur laut, Somalia dan Yaman, kata agensi tersebut.
David Beasley, kepala Program Pangan Dunia (WFP) menggambarkan angka terbaru sebagai sebuah dakwaan terhadap kemanusiaan.
“Dengan semua keberhasilan teknologi dan kekayaan, kita harus benar-benar menuju ke arah lain,” katanya pada peluncuran laporan tersebut, dilansir Press TV.
“Kami meminta para pemimpin dunia untuk menerapkan tekanan yang diperlukan untuk mengakhiri konflik ini sehingga kita bisa mencapai nol kelaparan,” katanya.
Laporan tersebut dibuat oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD), Dana Anak-anak PBB (UNICEF), WFP dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).





