
JOGJAKARTA – Tio Tegar Wicaksono, Mahasiswa Fakultas Hukum UGM angkatan 2016, seorang penyandang tunanetra, meyakini bahwa tidak bisa melihat bukan berarti tidak bisa belajar.
“Difabel bukan berarti tidak mampu, hanya cara kita berbeda dalam melakukan sesuatu,” ujar penyuka klub Manchester United ini.
Dikatakan Tio, Kontruksi sosial yang masih menganggap kaum disabilitas tidak normal dan tidak bisa melakukan apa-apa menjadi faktor penghambat penyandang disabilitas untuk berkembang.
Aktivitas Tio sehari-hari tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan. Ia biasa menggunakan handphone, sosial media seperti line, facebook, juga twitter. Di twitternya @tio_tegar ia beberapakali meretweet info beasiswa. Sedang akun linenya @tiotegar.
Tio juga mengikuti mengikuti perkuliahan pada umumnya. Hanya saja, Tio mempunyai cara-cara tersendiri. Untuk memperlancar aktivitasnya saat menggunakan handphone dan laptop, ia memasang aplikasi khusus yang bisa mengalihkan teks menjadi suara. Misalnya, aplikasi Google Talk Back di HP.
“Makanya, saya bersyukur sekali jika dosen memberikan materi soft file,” ujar Tio yang juga selalu merekam setiap perkuliahan agar memudahkan ia belajar. Tio juga hobi bermain tenis meja, ia pernah menjadi atlit tenis meja tunanetra.
“Ya, saya bisa melakukan aktivitas secara mandiri,” terang Tio yang juga mensyukuri teman-teman yang membantunya dalam mengakses buku-buku perpustakaan.
Dikutip dari KRJogja, pada saat ujian, Tio menerangkan bahwa ada petugas yang membacakan soal. Kemudian, ia akan menjawab secara lisan dan oleh petugas dituliskan kembali jawabannya. “Yang jelas sudah ada kebijakan yang mengarah ke inklusif, saya apresiasi itu,” ujar Tio yang juga aktif sebagai Manager Divisi Minat Bakat di Braille’iant Jogja.




