TIONGKOK mulai menggelar kekuatan mesin perang di dalam wilayahnya di kawasan Laut Tiongkok Selatan yang sebagian sampai saat ini masih dipersengketakan antara sejumlah negara.
Dari citra foto satelit yang dipublikasikan oleh Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI) /CSIS baru-baru ini, terungkap negara tirai bambu itu menempatkan sistem peringatan dini pertahanan udara.
Dilengkapi dengan rudal-rudal darat ke udara, sistem tersebut dirancang untuk melacak dan kemudian menghancurkan sasaran udara, baik rudal-rudal maupun pesawat musuh yang coba-coba mendekat.
Namun Kemlu Tiongkok dalam pernyataannya menyebutkan tidak mengetahui temuan AMTI tersebut dan menegaskan bahwa pulau-pulau buatan yang dibangun di kawasan LTS berada di dalam teritorial wilayahnya.
“Jika ada yang mengancam di depan pintu (rumah-red) , wajar saja kami mempertahankan diri, “ demikian kira-kira isi pernyataan Kemlu Tiongkok.
Sebaliknya CSIS (Pusat Studi dan Strategi Internasional) dalam laporannya memperkirakan, instalasi berbentuk segi enam di gugus pulau karang atau disebut Johnson Reef itu kemungkinan sistem rudal darat ke udara HQ-9 yang juga sudah terpasang di Pulau Woody, Kepulauan Paracel di utara LTS.
Sistem rudal darat ke udara (surface to air) jarak sedang HQ-9 dikembangkan Tiongkok sejak 1997 termasuk radar dan penuntun sasaran bergerak di udara (rudal atau pesawat). Rudal dapat mendeteksi sasaran dari jarak 200 Km dan menembak obyek bergerak di ketinggian sampai 27 Km.
Ketegangan di kawasan sering terjadi antara Tiongkok di satu pihak dan Brunei, Filipina, Malaysia dan Vietnam yang juga mengklaim kepemilikan sebagian pulau-pulau atau teritorial laut di jalur perdagangan LTS.
Terkejut, kemampuan Tiongkok
Direktur AMTI Greg Polling menyatakan rasa kagetnya melihat kenyataan, Tiongkok ternyata Tiongkok sudah memiliki seluruh infrastruktur, baik sistem pertahanan maupun penyerangan.
Menurut catatan, Tiongkok juga terus membangun kekuatan militer seiring dengan kemajuan ekonomi luar biasa yang diraihnya sejak beberapa dekade terakhir ini.
Buktinya, Tiongkok sudah berhasil mengoperasikan kapal induk pertamanya, Liaoning yang mampu mengangkut 26 pesawat tempur dan 24 helikopter. Liaoning semula dibangun oleh Ukraina, namun tidak rampung akibat kesulitan ekonomi di negara bekas sempalan Uni Soviet itu. Tiongkok kemudian meneruskannya.
Negeri tirai bambu itu saat ini juga sedang mengembangkan pesawat tempur generasi kelima Chengdu J-20 berkemampuan siluman (stealth) yang digadang-gadang menjadi pesaing pesawat tempur F-22 Raptor dan F35 JSF buatan AS atau Sukhoi T 50 Rusia.
Rudal balistik anti kapal induk Dongfeng DF21 dengan daya jelajah 3.000 Km yang sedang dikembangkan Tiongkok , berpotensi menjadi ancaman bagi armada AS yang lalu-lalang di LTS, walaupun keampuhannya dalam palagan sebenarnya (combat proven) tentunya perlu diuji lagi.
Tiongkok saat ini juga tercatat sebagai negara pengekspor senjata terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Rusia.
Indonesia menempatkan rudal permukaan ke permukaan C-802 buatan Tiongkok di kapal-kapal patroli FPB-57 buatan PT PAL, sementara satuan baret coklat (Arhanud) RI juga menggunakan meriam artileri pertahanan udara ringan (kaliber 23milimeter) Giant Bow yang mendapatkan lisensi dari Rusia (ZSU-234).
Indonesia sebagai negeri kepulauan terbesar di dunia juga harus memiliki angkatan perang yang kuat agar disegani dan memiliki kemampuan menangkal (deterrent), paling tidak di kawasan Asia Tenggara.
“Si vis pacem para bellum. “Siapa yang cinta damai, harus siap berperang”,





