Tips Bantu Kecemasan Berlebihan pada Anak

Ilustrasi anak (Foto: shutterstock)

JAKARTA – Rasa cemas bisa menghampiri siapa saja tanpa terbatas usia, dari anak hingga dewasa dan sulit untuk mengenali satu penyebab utama dari kecemasan.

Dikutip dari laman UNICEF, ketika menghadapi situasi yang menimbulkan stres, akan ada semacam alarm peringatan yang menyala di otak kita dan menandakan ada sesuatu yang tidak beres dan perlu kita hadapi. Supaya situasi sulit ini lekas berakhir, otak kita akan membuat kita lebih waspada, fokus hanya pada situasi itu, bahkan memompa lebih banyak darah ke kaki agar kita dapat melarikan diri.

Khusus untuk anak,  sebagian besar rasa khawatir ini adalah bagian yang alamiah dalam proses tumbuh besar.

Anak-anak usia enam bulan hingga tiga tahun biasanya mengalami kecemasan saat harus berpisah dari orang tua atau pengasuhnya. Mereka menjadi rewel dan mudah menangis. Hal ini wajar dalam proses tumbuh kembang anak dan biasanya berhenti pada usia dua hingga tiga tahun.

Untuk anak usia prasekolah, adalah normal jika mereka mengalami rasa takut atau fobia terhadap hal-hal tertentu, seperti hewan, serangga, badai, ketinggian, air, darah, dan suasana yang gelap. Biasanya, ketakutan-ketakutan ini hilang dengan sendirinya seiring waktu.

Banyak anak merasa cemas ketika masuk ke sekolah baru atau sebelum menjalani ujian. Ada pula anak yang merasa malu ketika berada di tengah orang lain.

Jika rasa takut dan khawatir yang wajar ini tidak juga hilang, atau mulai mengganggu kehidupan sekolah, di rumah, ataupun kegiatan bermain anak, bisa jadi tandanya anak membutuhkan dukungan dari tenaga profesional di bidang kesehatan mental.

Gejala kecemasan bisa rumit, bahkan timbul jauh setelah suatu kejadian yang membuat anak stres. Berikut adalah beberapa tanda dan gejala kecemasan pada umumnya:

Gejala fisik:

  • Napas terengah-engah, sakit kepala, atau merasa seperti akan kehilangan kesadaran
  • Detak jantung jadi cepat, terkadang diiringi tekanan darah yang juga tinggi
  • Gelisah, gemetar, atau rasa lemas pada kaki
  • Rasa tidak nyaman di perut, termasuk kram perut, diare, atau ingin ke toilet berkali-kali
  • Sulit tidur atau hilang selera makan
  • Mulut kering, berkeringat berlebihan atau merasa kepanasan.

Gejala emosional dan mental

  • Kesulitan untuk fokus, hilang konsentrasi
  • Merasa panik, gugup, atau tegang
  • Merasa kewalahan atau ketakutan
  • Merasa tidak bisa mengendalikan suatu situasi
  • Merasa letih dan mudah marah

Anak yang mengalami kecemasan cenderung perlu berkali-kali ditenangkan oleh orang tua dan pengasuhnya. Anak juga mungkin tidak banyak bicara sehingga kondisi yang mereka alami ini dapat dengan mudah terabaikan. Perhatikanlah jika muncul tanda-tanda kecemasan agar Anda dapat meminta bantuan dan memberikan dukungan kepada anak sedini mungkin jika dibutuhkan.

Bantu anak menghadapi kondisinya

Jika anak Anda merasa cemas, hal pertama yang bisa dilakukan adalah memberitahukan anak bahwa perasaan itu akan berlalu. Dengan begitu, anak akan merasa lebih tenang. Ada pula hal-hal lain yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak menghadapi kecemasan dan lebih siap jika kecemasan terjadi.

  1. Mendiskusikan apa yang dirasakan anak: Minta anak untuk memperhatikan perasaan mereka saat cemas dan menceritakan apa yang sedang terjadi ketika perasaan itu muncul, apa yang mereka rasakan, seberapa lama merasa cemas dirasakan, dan apa kira-kira penyebab rasa cemas itu? Semakin anak dapat memahami perasaannya sekaligus merasa aman, akan semakin mudah juga bagi mereka untuk mengelola perasaan itu.
  2. Alihkan perhatian: Anak yang mengalami kecemasan sering mengajukan pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab, misalnya, “kenapa seperti ini?” atau “saya kenapa?” Anda dapat mengajukan pertanyaan seperti, “Mau makan malam apa?” untuk membantu agar anak merasa punya kendali atas situasi dan berfokus pada momen yang sedang terjadi.
  3. Membangun kebiasaan sehat: Pola tidur dan makan yang sehat dapat membantu karena orang yang cemas terus menerus sering kali akan merasa sangat letih. Untuk anak-anak berusia 6 hingga 12 tahun, para pakar menyarankan durasi tidur malam selama sembilan hingga 12 jam. Untuk anak remaja, durasi yang disarankan adalah delapan hingga 10 jam. Agar tidur berkualitas, orang tua perlu membatasi akses ke ponsel pada malam hari. Gawai pun sebaiknya tidak diletakkan di kamar.
  4. Bantu anak untuk menggunakan indra-indranya: Indra manusia adalah sarana ampuh untuk mengatasi rasa panik, cemas, dan stres. Berikut adalah kiat praktis untuk membantu anak menggunakan indranya:
    Minta anak untuk duduk dengan nyaman dan bernapas secara perlahan. Lalu, minta mereka menyebutkan hal-hal yang membuat mereka tenang: 4 hal yang bisa dilihat, 3 hal yang bisa didengar, 2 hal yang bisa dicium aromanya, dan 1 hal yang bisa dicicipi.
  5. Bernapas dari perut: Saat cemas, napas kita menjadi pendek-pendek dan kita cenderung bernapas lewat dada. Ingatkan anak untuk mencoba bernapas dengan otot perut agar paru-paru mendapatkan lebih banyak oksigen dan mereka dapat menjadi lebih tenang.  Cobalah tiga langkah mudah berikut:
    • Letakkan kedua tangan di atas perut
    • Tarik napas dalam-dalam sebanyak lima kali. Hitung sampai lima setiap kali menarik dan mengembuskan napas. Tarik napas melalui hidung dan embuskan melalui mulut.
    • Ceritakan kepada anak, saat menarik napas, ia sedang mengisi perutnya dengan udara seperti kita meniup balon. Sementara itu, saat mengembuskan napas, anak seperti sedang mengeluarkan udara dari balon secara perlahan.

Advertisement