
INVASI Rusia ke Ukraina yang juga sesama negara sempalan Uni Soviet sejak 24 Februari lalu alih-alih mendekati rampung, malah menjadi titik balik dimana Ukraina berhasil merebut kembali sejumlah wilayahnya.
Hal itu tercermin dari perekrutan 300-ribu pasukan cadangan Rusia yang akan dikerahkan untuk memperkuat lebih seratus ribu personilnya yang tampaknya kewalahan menghadapi perlawanan gigih pasukan dan milisi Ukraina.
Tentu saja, kekuatan Ukraina yang jauh lebih kecil dan dengan persenjataan terbatas dibandingkan mesin perang raksasa Rusia, bertahan berkat gelontoran persenjataan modern dari Barat terutama Amerika Serikat.
Kantor Berita Rusia TASS melaporkan, setiap penduduk St. Petersburg yang mendaftarkan diri untuk mobilisasi akan mendapatkan tunjangan 100-ribu rubel (sekitar 1.600 dollar AS), sementara yang bersedia menjadi sukarelawan, mendapat 300-ribu rubel (4.800 dollar AS).
Tidak semua penduduk bersedia mengikuti program mobilisasi atau menjadi relawan, sebagian menolaknya, memilih hengkang ke negara tetangga seperti Finlandia.
Tak hanya memobilisasi pasukan cadangan dan sukarelawan, Presiden Rusia Vladimir Putin juga memerintahkan industri militernya meningkatkan produksi senjata untuk mendukung perang dengan Ukraina.
Putin baru saja juga menetapkan aneksasi sekitat seperlima wilayah Ukraina yang mayoritas berpenduduk etnis Rusia yakni Luhanks, Donetsk, Zaporizhia dan Kherson melalui referendum, menambah wilayah Krimea yang sudah dicaploknya pada 2014.
Di medan tempur, pasukan beruang merah Rusia juga baru saja mengalami pukulan telak yakni dihancurkannya jembatan strategis Kerch yang menghubungkan Krimea dengan wilayah Rusia (8/10) dan tenggelamnya penjelajah Moskva kebanggaannya akibat serangan rudal Ukraina awal Mei lalu. Jembatan Kerch sangat vital bagi jalur suplai bahan bakar, logistik persenjataan dan pasukan Rusia.
Sementara Komandan Intelijen Pertahanan Inggeris, Jenderal Jim Hockenhull seperti dikutip BBC menilai, direbutnya kembali sebagian wilayah oleh pasukan Ukraina meruntuhkan moral Rusia, walau Presiden Putin akan berusaha melipatgandakan kekuatan pasukannya sehingga perang bakal berlarut-larut.
Namun yang dicemaskan, menurut peneliti senior Lembaga Carnegie Endowment for Int’l Peace yang dikutip New York Times, jika Rusia yang terdesak, menggunakan kekuatan nuklirnya.
Berdasarkan data Institut Riset Perdamaian Stockholm (SIPRI), saat ini Rusia memiliki arsenal nuklir terbesar di dunia dengan total 5.977 hulu ledak atau 550 buah lebih banyak dari yang dimiliki AS. Kedua negara menguasai 90 persen hulu ledak nuklir global.
Baik AS mau pun Rusia saat ini diperkirakan juga sudah menempatkan 3.732 hulu ledak nuklir di silo-silo bawah tanah, kapal selam, kapal perang permukaan atau pesawat pengebom yang sewaktu-waktu siap diluncurkan.
Jika pasukan Rusia terdesak akibat dukungan AS dan Barat (terutama kekuatan NATO) yang berada di belakang Ukraina, bisa jadi Presiden Putin mengambil jalan pintas, menekan tombol serangan nuklir.
Jika itu terjadi, peradaban dan kemajuan infrastruktur dunia yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa musnah seketika.
Jika skenario itu terjadi, yang jelas dunia menuju kebinasaan. “Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu” alias tidak ada yang diuntungkan. (AFP/Reuters/ns).




