
PENGAMAT Militer Aris Santoso meminta agar TNI transparan terkait penanganan keterlibatan empat anggota BAIS dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Sebab, kata Aris, kasus ini sudah menjadi perhatian publik dan bahkan komunitas internasional. “TNI perlu transparan kepada publik soal pengungkapan kasus ini. Ini adalah sebuah pertaruhan kepercayaan,” ujar dia saat dihubungi Kompas.com, Jumat (27/3).
Dia juga mendorong TNI agar memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengawal pengungkapan kasus. Aris menekankan bahwa apresiasi harus diberikan kepada elemen elemen masyarakat sipil.
Pasalnya, pengunduran diri Letjen TNI Yudi Abrimantyo sebagai Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dapat dibaca sebagai respons lembaga militer terhadap desakan publik.
“Tanpa kawalan elemen masyarakat sipil, belum tentu kemajuan pengungkapan kasus bisa secepat ini,” tegas dia.
Ia menambahkan, kasus ini dapat menjadi pembelajaran penting, terutama terkait penerapan pengadilan koneksitas. “Maka dari itu, komitmen politik atau political will dari TNI masih diperlukan, ” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak empat prajurit Badan Intelijen Strategis (Bais) Tentara Nasional Indonesia (TNI) terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Hal itu diketahui usai Pusat Polisi Militer (Puspom) Markas Besar (Mabes) TNI menerima penyerahan tersangka dan mengumumkannya ke publik pada 18 Maret 2026 pukul 14.00 WIB.
Dari pengumuman itu terungkap bahwa Puspom TNI telah menahan empat prajurit Bais TNI berinisial Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES sebelum dipindahkan ke Pomdam Jaya.
Mereka berasal dari matra TNI AL dan TNI AU. Sebanyak dua dari empat tersangka merupakan eksekutor penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tak dikenal di Jakarta Pusat saat sedang berkendara sepeda motor dari kantornya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat Kamis (12/3) malam.
Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya mengatakan, serangan itu mengakibatkan Andrie mengalami luka pada sejumlah bagian tubuh.
“Terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” tutur Dimas.
Andrie kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Dari hasil pemeriksaan, ia diketahui mengalami luka bakar sekitar 24 persen.
Dua tersangka pelaku lainnya masih dalam proses pemeriksaan. Kendati demikian, Puspom TNI belum mengungkapkan peran secara detail, motif, hingga kronologi lengkap penyerangan tersebut.
Puspom TNI memastikan bahwa mereka menyelidiki dalang di balik penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Terkini, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Letjen TNI Yudi Abrimantyo mundur dari jabatannya usai kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Kasus ini memang harus dituntaskan setransparan dan seadi-adilnya, jangan sampai menodai kemanunggalan TNI dan rakyat. (Kompas.com/ns)




