Toilet, Cermin Bangsa

KEBERSIHAN toilet di rumah-rumah, apalagi di tempat-tempat umum, jangan dianggap sepele, karena bisa berdampak raibnya potensi meraup devisa, bahkan lebih parah lagi, bisa menjadi stigma buruk terhadap citra bangsa.

Selain jumlahnya tidak cukup, kondisi kebersihan toilet-toilet umum di Jakarta maupun kota-kota lainnya di Indonesia sangat memprihatinkan. Buktikan saja misalnya di terminal-terminal bus, di kantor-kantor instansi pemerintah di daerah, kedai-kedai makan dan lokasi keramaian lainnya.

Hanya di stasiun-stasiun KA, ada perbaikan cukup signifikan dalam kebersihan, walaupun ketersediannya sering tidak mencukupi, terutama di stasiun-stasiun kecil KA Commuter di wilayah Jabodetabek. Contohnya, di stasiun Duren Kalibata atau Pasar Minggu hanya tersedia dua urinoir dan dua WC Pria, begitu pula untuk wanita, hanya dua WC.

Buruknya kebersihan dan sanitasi di Indonesia termasuk toilet di kawasan wisata pantai dan pegunungan tercermin dalam Indeks Daya Saing dan Perjalanan Wisata (TTCI) yang menempati peringkat 109 dari 141 negara yang disurvei.

Khusus di kawasan Jabodetabek, menurut survei harian Kompas, masyarakat lebih banyak memanfaatkan toilet-toilet umum yang tersedia di mall-mall, pusat perbelanjaan  dan stasiun pompa bahan bakar umum (SBPU) yang umumnya relatif cukup bersih dan cukup tersedia.

Yang cukup memprihatinkan, kondisi kebersihan toilet di sebagian masjid-masjid  terutama di daerah-daerah, padahal jelas-jelas Nabi Muhhamad SAW bersabda,  kebersihan adalah setengah dari iman. Jika Majelis Umat Islam (MUI)  memelopori gerakan kebersihan di masjid-masjid dan mushola-mushola, tentu ini akan ikut juga menaikkan citra Islam di Indonesia..

Memalukan

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui dan menyebutkan, kondisi toilet-toilet di kawasan pariwisata di Indonesia umumnya pada tingkat yang memalukan.

Sementara Presiden Jokowi saat berbincang-bincang dengan wartawan seperti dimuat di Kompas (13/12) memimpikan kebersihan toilet-toilet di kawasan tujuan wisata Indonesia suatu saat nanti setara dengan fasilitas di hotel-hotel berbintang lima.

Presiden Suharto konon pernah bertanya pada Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi saat itu, Joop Ave mengenai anjloknya jumlah kunjungan wisata ke Sumatera Utara.

Setelah diteliti, ternyata penyebabnya karena para pelancong mengeluhkan kondisi toilet-toilet di wilayah itu. Sekitar satu setengah dekade setelah Suharto lengser, kondisi toilet di tempat-tempat umum, kawasan wisata dan di instansi-intstansi pemerintah di Sumut saat ini juga belum banyak berubah.

Contoh saja Malaysia. Dengan sumberdaya wisata yang terbatas, negara jiran itu mampu mendatangkan sekitar 30 juta wisatan asing  setahun, sebaliknya Indonesia dengan sumberdaya wisata melimpah ruah, “ngos-ngosan” untuk menargetkan 15 juta wisatawan atau separuh dari yang bisa diraih Malaysia.

Bayangkan berapa besar devisa yang bisa diraup dari sektor pariwisata jika prasarana, sarana, keterjangkauan, keamanan dan kenyamanan termasuk kebersihan toilet umum dibenahi.

Lebih dari itu, kebersihan toilet, juga bisa menginspirasi  bangsa ini untuk melakukan “bersih-bersih” lain.

Bersih-bersih spiritual” untuk bersikap toleran dan “fair”  dalam memaknai perbedaan dan untuk tidak berperilaku korup atau melakukan aksi-aksi “kotor” lainnya.

Mari kita mulai dari bersih-bersih toilet!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement