SEMENJAK kasus pidato Gubernur Ahok yang dipelintir orang, Presiden Jokowi rajin menjamu tokoh partai. Dimulai dari Prabowo Ketum Gerindra, Megawati (PDIP), Zulkifli Hasan (PAN), Surya Paloh (Nasdem), Romahurmuziy (PPP), Muhaimin Iskandar (PKB), Setyo Novanto (Golkar). Kemudian giliran tokoh ormas Islam seperti: Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dan terakhir Ketum PBNU KH. Said Aqil Siradj. Jika ada yang “terlewat”-kan mungkin, Pak SBY, Ketum Partai Demokrat.
Sesungguhnya tradisi jamuan makan bersama presiden sering dilakukan Jokowi kepada siapa saja, bukan hanya tokoh politik dan agama di Jakarta, para ulama dari daerah pun juga pernah diajak serta makan di Istana Negara. Apa lagi dengan sosok berprestasi dari seni, budaya dan olahraga, sering dilakukan secara massal. Makan bersama siapapun Presiden Jokowi memiliki target, demi kemajuan dan keutuhan bangsa Indonesia, NKRI.
Tentu saja kehadiran rakyat ketemu presidennya, bukan sekedar makan untuk mengenyangkan perut hingga glegeken (sendawa). Forum itu akan menjadi ajang asih, asah dan asuh yang kemudian akan bermuara pada filosofi: manunggaling kawula gusti, bersatunya antara rakyat dan pemimpinnya. Lewat komunikasi politik makan bersama inilah, rakyat dan pemimpinnya mampu menyamakan visi dan persepsi, sekaligus mencegah terjadinya friksi.
Sebagai manusia Jawa, tradisi makan bersama sudah biasa dilakukan Jokowi sejak jaman jadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta. Lewat pendekatan seperti itu apa yang menjadi program Jokowi selama memimpin, menjadi lebih mudah. Di Solo misalnya, untuk merelokasi pedagang di kawasan Banjarsasi, mereka diajak makan bersama berkali-kali, bahkan sampai 50 kali. Setelah itu, barulah Jokowi memaparkan tujuannya. Lantaran sudah kepotangan budi sega sepiring (berutang budi diajak makan), mereka dengan mudah diajak kompromi. Dan kini, pemindahan pedagang K-5 Banjarsari ke Semanggi eks kompleks WTS Silir, tak menimbulkan gejolak.
Tradisi mengundang makan memang bukan monopoli orang Indonesia. Orang Barat juga suka menghormati tamunya dengan mengundang minum teh (to have a tea) di rumah. Kesannya memang terasa pelit, wong mengundang tamu kok sekedar minum teh. Apaan tuh? Padahal sesungguhnya, dalam minum teh bersama itu juga disediakan makanan lengkap.
Menghormati dan menjamu tamu, dalam Islam merupakan sebuah tuntunan. Sebuah hadits Nabi mengatakan, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya” (HR al-Bukhâri dan Muslim). Di hadits yang lain Nabi juga bersabda, “Orang yang pertama kali memberi suguhan kepada tamu adalah Ibrâhîm.” (lihat ash-Shahîhah, 725).
Dalam tatanan budaya Jawa, banyak kalangan masyarakat yang punya tradisi menjamu tamu jauh. Di daerah Purworejo misalnya, tamu dari rantau semisal Jakarta, Palembang, Surabaya, akan dijamu mangan enak di rumahnya, dengan istilah: ngampirake. Sambil makan minum dengan menu istimewa, mereka ngobrol bersama tentang pengalaman di rantau atau suka duka tuan rumah selama menjadi orang kampung. Ini terasa akrab sekali. Cuma setelah era gombalisasi seperti sekarang ini, tradisi ini sudah mulai terkikis dan nyaris habis.
Tapi ada juga kepercayaan Jawa, pantang makan di rumah calon mertua. Sebab konon: barang siapa sampai klebon upa (baca: makan) di rumah orangtua calon istri, niscaya hubungan itu akan kandas di tengah jalan. Kepercayaan ini sesungguhnya sangat menguntungkan calon menantu, karena makan bersama calon mertua juga marupakan “ujian” tata krama di depan mertua. Bisa saja calon mertua menyampaikan “hak veto”-nya, gara-gara calon menantunya tak beretika ketika makan bersama. Misalnya mulut kecap (bunyi) atau sendawa di depan calon mertua. (Cantrik Metaram).





