
AKSI unjuk rasa dimotori generasi Z menentang pemerintah sejak Agustus lalu antara lain terjadi di Indonesia, Nepal, Maroko, Madagaskar sampai Timor Leste.
Di Indonesia, aksi demo yang digelar antara 25 sampai 31 Agustus mengguncang berbagai kota selain ibu kota Jakarta berujung aksi anarkis berupa penjarahan rumah sejumlah politisi dan juga kediaman Menkeu Sri Mulyani, pembakaran gedung DPRD dan kantor polisi di sejumlah kota.
Yang membuat miris, di tengah tuntutan perbaikan oleh publik, juga terjadi aksi penjarahan oleh massa melibatkan anak anak di bawah umur terhadap rumah politisi yang dianggap arogan, bahkan rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani juga ikut dijarah.
Sementara CNN melaporkan, dari Kathmandu di Nepal, Lima di Peru, sampai Rabat di Maroko, ribuan orang turun ke jalan menuntut perubahan sosial, keadilan, dan transparansi pemerintahan.
Meski tuntutannya berbeda-beda, benang merahnya tetap sama: Ketimpangan ekonomi, praktek korupsi, krisis iklim, dan minimnya representasi politik bagi publik di akar rumput.
Generasi muda, khususnya Gen Z, menuntut perombakan kontrak sosial yang mereka anggap gagal memenuhi harapan masa depan.
Di Maroko
Demo Gen Z Maroko telah berlangsung sembilan hari beruntun ( 27 Sept. – 5 Okt.) terus menyebar ke kota-kota besar. Para pedemo menuntut perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan publik.
Di berbagai kota di Maroko, gelombang protes muncul di bawah panji GenZ 212, mengacu kode telepon internasional negara itu. Aksi dipimpin oleh mahasiswa dan sarjana yang menganggur.
Mereka menuntut reformasi di sektor kesehatan, pendidikan, dan keadilan sosial, yang dinilai terbengkalai akibat fokus pemerintah pada proyek infrastruktur besar untuk Piala Dunia 2030.
Meski stadion dan hotel mewah dibangun, fasilitas kesehatan di daerah tetap minim, dan sistem pendidikan yang kekurangan dana terus mencetak lulusan dengan prospek kerja yang suram.
Tingkat pengangguran pemuda di Maroko mencapai 36 persen. Hampir 1 dari 5 lulusan universitas masih belum mendapatkan pekerjaan.
Demo Maroko juga dipicu kematian sejumlah ibu hamil setelah menjalani operasi caesar di Kota Agadir. Kejadian tersebut memperlihatkan rapuhnya sistem layanan kesehatan. Aksi massa dibalas keras oleh pemerintah.
Tiga orang dilaporkan tewas, ratusan luka-luka, dan puluhan lainnya ditangkap. PM Aziz Akhannouch menyatakan, pemerintah telah menanggapi tuntutan para pengunjuk rasa dan siap berdialog. Namun, GenZ 212 tetap mendesak agar pemerintah mundur.
Rezim Nepal tumbang
Sementara aksi protes yang digelar di Kathamndu, Nepal selama 48 jam sejak 18 Sept. berhasil meumbangkan rezim yang dianggap korup, namun kemenangan rakyat harus dibayar mahal.
Dilaporkan 72 orang tewas selama kerusuhan yang dinilai paling brutal itu, sementara sejumlah gedung perkantoran, rumah politisi dan hotel mewah dibakar, bahkan isteri mantan PM Rajyalaxmi Chitrakar tewas dianiaya massa seteah rumahnya dijarah.
Merembet ke Madagaskar
Aksi demo Gen Z melanda Madagaskar selama sembilan hari sejak 25 Sept. dipicu krisis air bersih dan pemadaman listrik bergilir yang membuat kemarahan publik, khususnya kaum muda.
Demonstrasi di negara kepulauan Samudra Hindia ini dengan cepat berkembang menjadi tuntutan sistemik.
Mereka mendesak Presiden Andry Rajoelina, yang kali pertama berkuasa lewat kudeta 2009 untuk mengundurkan diri. Rajoelina menanggapi dengan membubarkan kabinet.
“Saya mendengar seruan itu, saya merasakan penderitaannya.” Akan tetapi, penindakan terhadap demonstran tetap berlangsung.
PBB melaporkan sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka, meski pemerintah membantah angka tersebut
Di Peru
Di Amerika Selatan, tepatnya Peru, demonstrasi mahasiswa dimulai sejak 20 September 2025 setelah pemerintah mengusulkan reformasi sistem pensiun.
Aksi lalu berkembang menjadi seruan untuk menghapus korupsi, menekan angka kriminalitas, dan menuntut mundur Presiden Dina Boluarte.
Tingkat kepercayaan publik terhadap Boluarte kini anjlok ke angka 2,5 persen, sedangkan pemerintahannya hanya mendapat dukungan 3 persen. Setidaknya 22 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.
Di Timor Leste
Mahasiswa dari sejumlah universitas di Universitas Nasional Timor Leste (UNTL) Dili pada 15 September 2025 berlarian dari gas air mata yang ditembakkan polisi selama protes mereka terhadap rencana pembelian 65 mobil bagi anggota parlemen.
Direktur SOAS South Asian Institute, menilai ada keterkaitan erat antara gerakan yang dipimpin Gen Z di negara-negara berkembang.
“Prioritas elite penguasa terasa sangat jauh dari realitas hidup Gen Z,” ujarnya kepada CNN.
Ia menambahkan, para pemuda ini dibayangi krisis iklim, ketidakpastian ekonomi, serta meningkatnya otoritarianisme.
Dalam situasi seperti ini, protes menjadi satu-satunya jalan keluar yang dirasa memungkinkan. “Ketika mereka melihat keberhasilan di negara lain, semangat itu bisa menular,” ujar Sinha.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh di era digital dan menjadikan internet sebagai alat utama mobilisasi. Platform seperti TikTok, Instagram, Telegram, hingga Discord, menjadi pusat koordinasi protes.
Di Maroko, server Discord GenZ 212 berkembang dari 3.000 menjadi lebih dari 130.000 anggota hanya dalam beberapa hari, berdasarkan data Reuters.
Peringatan bagi para penguasa di mana saja, agar tidak bermain-main dengan amanah yang diberikan rakyat di pundak mereka.
Rakyat di era now makin pintar, dan well informed berkat kemajuan tenologi, sehingga setiap langkah yang dinilai menyakiti mereka, atau tidak menunjukkan keadilan, pasti bakal menuai protes. (CNN/AFP/ns)




