GURU selama ini punya trade merk: bisa digugu lan ditiru (baca: jadi panutan). Tapi gara-gara ulah oknum tiga guru di Kab. Serang, citra guru jadi tercoreng. Guru malah dipelesetkan jadi: Minggu berbuat saru (cabul)! Bayangkan, di sebuah SMP Kec. Cikeusal, tiga oknum gurunya tega menggauli tiga muridnya pula di ruang labaratorium komputer. Peristiwa memalukan itu terjadi bulan Maret, tapi baru diusut dan ditangkap pelakunya beberapa hari lalu.
Guru berbuat cabul pada murid sendiri, mengingatkan pada kisah perwayangan, tentang Begawan Wisrawa yang mencabuli Dewi Sukesi, atau Betara Surya yang mencabuli Dewi Kunthi. Begawan Wisrawa dengan dalih mejang (mengajarkan) ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Betara Surya terdampak ilmu  Adityarhedaya yang diajarkan Begawan Druwasa.
Dewi Sukesi putri Prabu Sumali dari Ngalengka, setelah diwejang ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, jadi pasrah saja ketika digarap oleh Begawan Wisrawa. Sebaliknya, Begawan Druwasa memberikan ilmu Adityarhedaya dengan pesan, jangan dibaca sembarangan. Sebab mantera itu bisa mendatangkan dewa kahyangan untuk blusukan ke ngercapada. Benar saja. Ketika Kunthi penasaran dan membaca asal-asalan Adityarhedaya, Betara Surya pun datang dan minta tanggungjawab. Hasilnya, Dewi Kunthi hamil dan melahirkan Suryatmaja atau Karno.
Nah, di era digital seperti sekarang ini, ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dan Adityarhedaya oleh tiga guru di Cikeusal disulap menjadi laboratorium komputer. Di tempat itulah tiga muridnya dipanggil. Awalnya mereka bertiga diajak berdiskusi tentang mata pelajaran di sekolah, tapi ujung-ujungnya ketiga guru itu memaksa tiga muridnya untuk melayani syahwatnya.
Guru menodai muridnya, pernah masuk pemberitaan. Tapi tiga guru kompak menggauli tiga muridnya, baru di SMP Cikeusal saja terjadi. Tak jelas beritanya, itu SMP Negeri atau SMP swasta. Yang jelas ulah ketiga guru itu telah merusak citra PGRI sebagai organisasi induknya. Bagimana mungkin, guru yang dicitrakan sebagai panutan murid bahkan orangtua murid, tega-teganya merusak citra itu sendiri.
Di pedesaan, profesi guru sangat dihormati. Menjadi tempat bertanya bukan saja di sekolah, tapi juga dalam masyarakat. Seakan dia menjadi orang yang serba tahu. Ketika sebuah keluarga punya hajatan mantu, Pak Guru sering didaulat jadi saksi, bahkan memberi sambutan mewakili keluarga. Pokoknya di kampung-kampung, guru masih dianggap manusia setengah dewa.
Jaman terus bergeser. Celakanya sekarang ini memang tidak semua guru lulusan SPG, IKIP atau setaranya. Gara-gara kekurangan guru, banyak sekolah yang merekrut guru bukan dari sekolah pendidikan guru. Tentu saja mereka tak diajari ilmu Didaktik Metodik, Ilmu Jiwa Anak dan Ilmu Jiwa umum. Jangan-jangan, guru-guru cabul itu dari SMP swasta yang tidak laku, yang merekrut guru asal comot.
Jika mereka memang berasal dari sekolah guru, tentu akan mikir seribu kali berbuat sekeji trio guru cabul di Serang ini. Mereka akan berfikir secara sebab akibat. Kalau begini akhirnya begitu. Tapi guru yang asal comot, yang sekolahnya tidak laku, takkan mikir begini begitu, yang penting bisa begituan, untuk melepas ketegangan biologis. Akhirnya, kenikmatan sesaat menjadi penderitaan berkepanjangan di balik terali besi. (Cantrik Metaram)





