Tujuh Anak Panti Tunas Bangsa Tidak Diketahui Keberadaannya

Foto : Ilustrasi

PEKANBARU – Yayasan Tunas Bangsa tenga menjadi sorotan, karena kasus kekerasan terhadap anak dan orangtua yang berada di dalam panti asuhannya. Hingga kini tujuh anak panti dibawa kabur oleh pengelola Yayasan Tunas Bangsa,  dan keberadaannya masih belum ditemukan.

Sebelumnya, ada 10 anak yang dibawa oleh pengelola panti tersebut. Sebanyak tiga di antaranya ditemukan saat Lembaga Perlindungan Anak Riau, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial Pemprov Riau melakukan sidak ke panti jompo dan pengidap ganggu‎an jiwa di Jalan Cendrawasih, Pekanbaru yang diketahui masih milik yayasan yang sama.

“Tiga orang ditemukan di Jalan Cendrawasih itu. Kondisinya memperihatinkan,” kata Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak LPA Riau, Nanda Pratama, Senin (30/1/2017).

Dia menyebutkan, tiga anak yang ditemukan itu sudah dibawa ke sebuah tempat milik Dinas Sosial Pemprov Riau. Dengan demikian, sudah ada lima anak yang diselamatkan dari panti maut di Jalan Lintas Kilometer 13 Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru.

“Sewaktu sidak ke panti asuhan di jalan lintas tersebut, ditemukan dua anak dan langsung dibawa ke panti milik dinas sosial,” kata Nanda.

Nanda menyebutkan, tiga anak terakhir ketika ditemukan diletakkan dalam sebuah ruangan yang pintu dan jendelanya terdapat teralis seperti penjara. Di dalam panti menyengat bau busuk dan tidak sehat, karena kamar mandi dan toilet di ruangan tidak ada pembatas.

“Ya yang kayak penjara itu ditemukannya. Kalau soal bangunan panti itu, kan memang seperti penjara. Tidak layak, apalagi untuk anak-anak,” ucap Nanda, demikian dilansir Liputan6.com, Selasa (31/1/2017).

Polresta Pekanbaru diharapkan mengusut kasus ini dan segera menangkap pengelola, terutama pemilik yayasan bernama Lili. Ditangkapnya nama ini bakal membuat terang tentang keberadaan anak lainnya.

Sebelumnya, panti tersebut menjadi sorotan karena salah satu anak, M. Ziqli (18 bulan) meninggal dunia secara tak wajar. Meski salah seorang pembantu di panti menyebut tidak ada penganiayaan, tapi hasil autopsi menunjukkan hasil berbeda.

Pihak Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau menyatakan pada tubuh M. Ziqli terdapat tanda-tanda kekerasan seperti luka lecet, lebam, dan resapan darah pada organ vital. Hal itu diduga diakibatkan kekerasan oleh benda tumpul.

Sidak yang dilakukan pihak Dinsos juga telah menemukan 19 orang tua yang hidup terkurung di dalam sel seperti penjara dengan kondisi yang memprihatinkan. bahkan 18 orang diantaranya dalam kondisi gangguan jiwa karena stress dan frustasi.

Advertisement