
JAKARTA – KBRI Damaskus telah menerima kedatangan tujuh orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Aleppo, yang hak-haknya berhasil diperjuangkan oleh pengacara retainer Muhamad Akra dan petugas konsuler KBRI Damaskus cabang Aleppo.
Berdasarkan keterangan tertulis dari KBRI Damaskus yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (10/1/2017), ketujuh TKI tersebut berasal dari Serang, Banten, Tangerang, Indramayu, Karawang, Sulawesi Selatan dan Lombok, NTB.
Menurut pengakuan Itik Rasja, TKI asal Indramayu, ia sudah bekerja selama 9 tahun di Kota Aleppodan awalnya dijanjikan bekerja di Qatar, namun ia dikirim ke Suriah. Ia juga menceritakan keadaan Aleppo yang langka akan air dan listrik.
“Sudah 6 bulan ini listrik mati, sehingga kami memakai generator untuk menghasilkan listrik, kami juga sering menggunakan aki mobil sebagai pengganti penghasil listrik,” ujar Itik.
“Begitu juga dengan air, seringkali kami kehabisan air yang disuplai oleh Pemerintah Suriah, sehingga majikan saya harus membelinya dari luar Aleppo,” sambung Itik.
Sejak tahun 2012, KBRI Damaskus telah merepatriasi sebanyak 12.576 WNI dari Suriah yang sebagian besar TKI dalam 282 gelombang.
Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, menegaskan bahwa pengiriman TKI ke Suriah sudah disetop sejak 2011 dan ke seluruh Timur Tengah sejak 2015.
“Namun ironisnya, di tengah gelombang pengungsi rakyat Suriah ke luar negeri, ternyata masih marak praktik perdagangan manusia ke Suriah berkedok pengiriman TKI,” ujar dia.
Pejabat Konsuler merangkap Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Damaskus, AM Sidqi, mengungkapkan rencana gelombang repatriasi ke-283 pada tanggal 19 Januari. “Mudah mudahan tujuh orang dari Aleppo itu bisa diikutkan gelombang berikutnya, setelah semua persyaratan keimigrasian rampung,” kata dia.




