Tuntutlah Buruh Ke Negeri Cina

illustrasi: tembok cina yang terkenal.

SEBELUM ada poros Jakarta – Peking di era Presiden Sukarno, bangsa Indonesia sudah akrab dengan bangsa Cina. Dari makanan, peralatan, pakaian,  bahkan pertikaian, banyak berhubungan Cina. Sampai-sampai Presiden Jokowi dikritik, karena memasukkan tenaga kerja kasar dari negeri Cina. Padahal –meskipun dhoif (lemah)– hadits Nabi hanya mengatakan: tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, bukan: tuntutlah buruh sampai ke negeri Cina.

Sejak lahir ternyata bangsa Indonesia tak pernah lepas dengan Cina. Makanan saja ada: bubur pacar cina, kacang cina, itu kacang tanah yang berisi 3-4 biji. Ada juga baju potong Cina. Cerita silat Cina karya Kho Ping Ho atau juga OKT (Oey Kim Tiang) di majalah Star Weekly tahun 1960-an, banyak digemari pembaca.

Ada dongeng tentang kacang Cina. Alkisah, seorang pembantu yang tolol disuruh majikan cari kacang Cina.Tahu-tahu dia pulang membawa sebungkus kacang dan menyeret seorang Cina. “Maaf tuan, saya hanya bisa membawa sebungkus kacang dan seorang Cina, bukan kacang Cina,” kata si pelayan yang bloon itu.

Dan dalam buku “Bakda mawi rampok” karya Kartawibawa (Balai Pustaka 1923) diceritakan pula tentang Cina yang panjat pohon untuk melihat tontonan macan ditombak ramai-ramai. Ketika macan itu lepas dari arena, Cina yang ketakutan tersebut terjun dari pohon, sampai terlepas kucir hingga kulit di batok kepalanya. Ternyata ada orang iseng yang sengaja mengikat kucir miliknya dengan ranting pohon.

Dalam sejarah, perempuan Cina disebut Putri Cempa. Pada buku “Babad Tanah Jawa” dikisahkan, istri Prabu Brawijaya raja Majapahit yang bernama Ni Endang Sasmitapura, tak suka dengan madunya yang putri Cempa, sehingga minta diusirnya. Maka putri Cina yang tengah hamil tersebut dihadiahkan kepada putra sang prabu Arya Damar yang hendak berangkat ke Palembang untuk menjadi Adipati. Bayi dalam kandungan putri Cina tersebut itulah yang kemudian di identifikasi sebagai Raden Patah.

Di abad ke-12 raja Singasari, Kertanegara, pernah menganiaya (potong kuping) Meng Qi utusan raja bangsa Mongol Kubilai Khan, karena minta Tanah Jawa tunduk pada kekuasaan Cina. Menyusul di abad ke-17, pemberontakan Cina (Geger Pecinan) terjadi di Batavia (1740), karena pemerintah Belanda terlalu represif. Meski jaman itu belum ada “tukang kompor” lewat medsos,  kerusuhan itu merembet ke Surakarta, sehingga Pakubuwono II terusir ke Ponorogo. Inilah awal kepindahan Kraton Surakarta dari Kartosura ke tempatnya sekarang.

Urusan dengan Cina nyambung lagi ketika Presiden Sukarno membentuk “Poros Jakarta – Peking” di tahun 1964, sebagai siasat mencari dukungan Cina atas konfrontasi RI-Malaysia yang dibekingi Inggris. Sakit pun Bung Karno mendatangkan dokter dari Cina, sementara rakyat di masa itu untuk mengisi batu (bateray) senternya dengan batu made in Cina yang bermerk 555.

Di pemerintahan Soeharto 1967-1998, Cina hanya boleh berbisnis, tak boleh berbudaya. Seni dan budaya Cina dilarang tampil, sampai nama-nama Cina juga dihilangkan. Maka etnis Tionghoa yang bernama Han, diganti menjadi Handoko, yang Tjan menjadi Tjandra, yang Gun menjadi Gunawan. Tapi paling keren di Solo, seorang Tionghoa bernama Go Tik Swan, karena lebih Jawa dari orang Jawa diberi gelar KRT Hardjonagoro.

Sebagai penerus cita-cita Bung Karno, Presiden Jokowi rupanya sedang membentuk “Poros Jakarta-Beijing”. Terbukti bikin KA Cepat saja ambil dari Cina. Paling ironis, di kala buruh dalam negeri banyak nganggur, buruh kasar Cina masuk tak kurang dari 21.000. Kata Presiden, target kita 10 juta wisatawan Cina, bukan tenaga kerja Cina. Apakah karena Jokowi ingin bermotto: tuntutlah buruh sampai ke negeri Cina? (Cantrik Metaram).

 

Advertisement