spot_img

Turbulensi, momok penerbangan 

SATU  penumpang tewas, 30 lainnya terluka akibat turbulensi ekstrim yang dialami oleh pesawat penumpang Singapore Airlines SQ-321 dalam penerbangan London – Singapura dengan 12  awak dan 131 penumpangnya, (Rabu, 22/5).

Pesawat lalu dialihkan untuk mendarat darurat di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, sementara penumpang yang terluka dirujuk ke RS setempat, dan selang beberapa waktu kemudian, penumpang yang selamat dan kru melanjutkan terbang ke Singapura dengan pesawat bantuan.

Mengutip TV CNA,  tampak kerusakan di panel kabin atas, sedangkan masker gas dan panel terlepas dan terjuntai di langit-langit, barang-barang bawaan milik penumpang terutama tas-tas tangan berserakan.

Satu satunya korban tewas adalah pria lansia asal Thornbury, Inggris  Geoff Kitchen (73), diduga menghembuskan nafas terakhirnya karena serangan jantung akibat shock saat turbulensi dan sekitar 30 orang lain terluka, beberapa di antaranya kritis.

Sejumlah penumpang menanggapi pertanyaan pers menuturkan,   penerbangan dari London ke Singapura awalnya normal dan baik-baik saja sebelum terjadi turbulensi hebat dan akhirnya pesawat mendarat darurat di Bangkok.

“Saya melihat sejumlah penumpang (yang melepas seat-belt-red) terpental dan ada yang membentur langit-langit sehingga mengalami   gegar otak atau luka parah di kepala,” tutur Dzafran Azmir (28).

Ia menuturlan, pesawat terasa miring dan  mulai bergetar, lalu tiba-tiba menukik sangat drastis sehingga setiap penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terlempar ke langit-langit dan beberapa orang kepalanya terbentur kabin bagasi..

“Tim SIA segera berangkat dari Singapura ke Bangkok untuk memberikan segala dukungan yang bisa diberikan pada kru SQ321, para penumpang dan pihak berwenang setempat, ” kata CEO SIA Goh Choon Phong.

Turbulensi ekstrim

Dalam pesan video, Goh menuturkan, pesawat SQ-321 mengalami turbulensi ekstrem secara tiba-tiba di atas cekungan Irawaddy, Myanmar,  pada ketinggian 37.000 kaki sekitar 10 jam setelah keberangkatan dari Bandara Heathrow, London.

Pilot menyatakan keadaan darurat medis dan mengalihkan pesawat Boeing 777-300ER itu ke Bangkok sehingga mendarat darurat, Rabu 22/5 pukul 15.45 waktu setempat.

Sementara Biro Investigasi Keselamatan Transportasi (TSIB) Singapura yang merupakan bagian dari Kementerian Transportasi masih terus melakukan investigasi atas hal yang terjadi pada SQ-321.

Sedangkan penyedia pelacakan pesawat FlightRadar24 mengatakan sekitar pukul 15.49 waktu Singapura, penerbangan London-Singapura mengalami perubahan kecepatan vertikal yang cepat dan konsisten dengan peristiwa turbulensi secara tiba-tiba.

“Ada badai petir di koridor udara tersebut saat itu,” ungkap pihak FlightRadar24.

Turbulensi terjadi akibat berbagai penyebab dan yang paling jelas adalah saat pola cuaca tidak stabil yang memicu badai, tetapi bisa juga  akibat fenomena turbulensi udara jernih (Clrear Air Turbulence) yang sangat sulit dideteksi karena berlangsung tiba-tiba.

Melansir CNA, dari foto-foto  yang diunggah menunjukkan nampan makanan dan barang-barang berserakan di lantai pesawat, selain itu, masker oksigen terlihat bergelantungan dari tali untainnya, sementara bagian interior kabin pesawat tampak rusak.

Sedangkan menurut Layanan Cuaca Nasional Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat, Analis penerbangan independen Alvin Lie menyatakan intensitas turbulensi pada penerbangan SIA  kemungkinan termasuk ‘ekstrem’ dan klasifikasi tertinggi.

Turbulensi ekstrem tersebut menyebabkan pesawat terombang-ambing dengan keras dan hampir mustahil dikendalikan. Hal ini juga dapat menyebabkan kerusakan struktural pada pesawat.

“Biasanya turbulensi terjadi akibat pergerakan awan. Pilot akan diberi peringatan di radar agar bisa menghindarinya atau memberitahu awak dan penumpang untuk memakai sabuk pengaman,” ujarnya.

“Melihat jumlah korban luka, saya yakin SQ-321 bertabrakan dengan CAT, di mana sebuah pesawat bisa terombang-ambing dengan keras,” jelas lie.

Ia juga menambahkan CAT bisa tiba-tiba muncul tanpa ada tanda-tanda yang bisa diantisipasi walau fenomena tersebut jarang terjadi dan menyebabkan masalah serius.

“Tidak ada cara untuk mengetahui kapan atau di mana CAT terjadi, tingkat keparahan dan intensitasnya. Saya yakin ada banyak pesawat lain yang terbang di area tersebut pada waktu yang sama dengan SQ-321 (tetapi tidak apa apa ). Hanya nasib buruk,” jelasnya.

Kronologi

Biro Investigasi Keselamatan Transportasi (TSIB) Singapura yang merupakan bagian dari Kementerian Transportasi sedang membuka penyelidikan atas hal yang terjadi pada SQ-321 dan  melakukan kontak dengan mitranya dan mengirimkan tim penyelidik ke Bangkok.

Penyedia pelacakan pesawat FlightRadar24 mengatakan sekitar pukul 15.49 waktu Singapura, penerbangan London-Singapura mengalami perubahan kecepatan vertikal yang cepat dan konsisten dengan peristiwa turbulensi secara tiba-tiba.

“Ada badai petir di wilayah tersebut saat itu,” ungkap pihak FlightRadar24.

Turbulensi memiliki banyak penyebab yang paling jelas adalah pola cuaca yang tidak stabil yang memicu badai, tetapi penerbangan ini bisa saja dipengaruhi oleh turbulensi udara jernih yang sangat sulit dideteksi.

Penumpang Andrew Davies mengatakan, lampu tanda sabuk pengaman harus dikenakan dinyalakan beberapa saat sebelum pesawat turun.

“Banyak sekali yang terluka, kepala robek, telinga berdarah,” tulisnya di media sosial X dan menambahkan seorang penumpang perempuan menjerit kesakitan.

“Tidak ada cara untuk mengetahui kapan atau di mana CAT dapat terjadi, serta tingkat keparahan dan intensitasnya. Saya yakin ada banyak pesawat lain yang terbang di area tersebut pada waktu yang sama dengan SQ321 (tetapi tidak terpengaruh). Hal itu hanya nasib buruk,” jelasnya.

Menurut penelitian terbaru, turbulensi yang mematikan terhitung jarang, namun, apakah perubahan iklim membuat turbulensi semakin berbahaya? Untuk mengetahui jenis turbulensi yang dialami SQ-321 perlu didalami lebih jauh.

Turbulensi adalah fenomena pergerakan udara tidak teratur yang menimbulkan arus angin. Ketika arus ini menerpa, pesawat dapat terguling, miring ke samping, atau tiba-tiba anjlok dari ketinggian.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan pesawat mengalami turbulensi, mulai dari udara yang mengalir dari pegunungan menuju awan-awan hingga cuaca buruk, namun masih belum bisa dipastikan  penyebab turbulensi “traumatis“ yang dialami pesawat SQ-321.

Namun, berdasarkan prakiraan cuacanya, ada kemungkinan turbulensi itu timbul akibat fenomena (CAT) atau badai petir terjadi ketika ada perubahan arah angin dalam atau di sekitar arus pesawat bagaikan sungai beraliran deras yang dapat ditemukan pada ketinggian 30.000-60.000 kaki.

Tahun lalu, para ilmuwan dari Universitas Reading menemukan turbulensi “udara jernih“ yang sulit dinavigasi para pilot telah meningkat di kawasan Atlantik Utara 55 persen dalam rentan waktu 1979 hingga 2020.

Meskipun lembaga meteorologi menyiarkan peringatan potensi turbulensi, terkadang pertanda itu tidak terdeteksi oleh radar pesawat atau terlihat oleh pilot.

Profesor Paul Williams, ilmuwan atmosfer dari Universitas Reading, yang ikut dalam penelitian tersebut mengatakan kepada BBC tahun lalu:

“Kita seharusnya berinvestasi dalam perbaikan sistem ramalan turbulensi dan sistem deteksi dalam beberapa dekade ke depan, untuk mencegah udara buruk bertabrakan dengan pesawat dan membuat penerbangan terganggu.“

Mengapa badai dapat menyebabkan turbulensi?

Badai yang terdiri dari guntur, petir dan hujan es hanya dapat dihasilkan oleh awan cumulonimbus.

Awan cumulonimbus dapat berada tinggi di atmosfer, jauh di atas jalur penerbangan pesawat. Sehingga, pesawat tidak bisa menghindari awan itu dengan sekadar terbang di atasnya.

Awan itu terbentuk dari udara hangat yang naik dari permukaan bumi sampai ke atmosfer. Setelah tiba di atmosfer, awan itu mendingin dan mengembun.

Di dalam awan cumulonimbus, gerakan naik-turun udara dapat mengalir dengan sangat kuat hingga menyebabkan turbulensi parah.

Awan cumulonimbus yang menghasilkan guntur memiliki aliran arus udara yang sangat kuat, mengandung muatan energi yang setara dengan 10 bom atom Hiroshima.

Prakiraan cuaca pada saat itu menunjukkan ada banyak badai petir yang terjadi di Myanmar saat pesawat Singapore Airlines sedang terbang pada Selasa (21/5).

 iklim memperparah badai?

Menurut laporan lembaga iklim PBB, Panel Antarpemerintah tentang prubahan aiklim (IPCC), terdapat bukti kuat bahwa perubahan iklim membuat badai tropis semakin intens.

Ada dua faktor di balik fenomena ini. Perubahan ilim menghangatkan laut yang kemudian menyebabkan lebih banyak air menguap sehingga, lebih banyak hawa panas dan cairan naik ke udara.

Di saat yang bersamaan, udara yang semakin hangat dapat mengangkut lebih banyak cairan. Ini menghasilkan angin kuat dan badai hujan yang lebih berat, yang kemudian menghasilkan turbulensi parah.

Namun, belum ada bukti jelas yang dapat menunjukkan bahwa kini badai tropis semakin sering terjadi.

Selama beberapa bulan ke depan, para penyelidik akan memeriksa data dari sistem pesawat untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada penerbangan Singapore Airlines.

Williams mengatakan data ini dapat “digunakan dalam penelitian ilmiah, untuk membantu memahami penyebab turbulensi dan memperbaiki sistem prediksi turbulensi.”

Data pelacakan penerbangan menunjukkan, pesawat menukik turun 6.000 kaki (2.000 meter) dalam hitungan menit setelah melintasi Teluk Benggala.

Dikutip dari BBC, turbulensi paling sering disebabkan pesawat yang terbang melintasi awan, tetapi ada juga turbulensi CAT yang tidak terlihat radar cuaca dan tak dapat diprediksi.

Jadi, bukan tanpa alasan maskapai penerbangan merekomendasikan sabuk pengaman tetap dikencangkan selama penerbangan, baik dalam waktu lama maupun sebentar,” pungkasnya.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim akan membuat turbulensi parah lebih mungkin terjadi ke depannya.

“PR” bagi pemangku kepentingan terkait keselamatan penerbangan untuk menimba pengalaman dari kasus SQ-321 guna menghindari kecelakaan ke depannya (berbagai sumber/ns)

 

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles