
KEBEKUAN hubungan antara Turki dan Israel selama 14 tahun kembali mencair, ditandai lawatan Presiden Israel Isaac Herzog atas undangan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan ke Ankara (9/3).
Ungkapan realistis disampaikan Herzog menjelang keberangkatannya ke Turki dengan menyebutkan, kedua negara tidak akan bisa menyepakati semua hal dan hubungan keduanya selama ini diwarnai pasang-surut.
“Kami membangun hubungan dengan cara-cara yang terukur, hati-hati dan berdasarkan prinsip saling menghormati, “ tandasnya.
Sebelumnya, Turki adalah negara di kubu Arab partama yang mengakui kedaulatan Israel (1950) setelah kemerdekaan negara Yahudi itu, Mei 1949 yang memicu konflik dan tiga perang besar Arab – Israel yakni Perang kemerdekaan Israel pada Mei 1948, Perang Enam Hari Juni, 1967 dan Perang Yom Kippur Oktober 1973.
Hubungan Turki dan Israel makin renggang setelah Presiden Erdogan terang-terangan mendukung sayap militer Palestina, Hamas yang memegang kontrol Jalur Gaza, sebaliknya Israel menganggap Hamas sebagai gerakan teroris.
Hubungan Turki-Israel kembali memanas setelah AS, yang nota bene adalah sekutu Turki dalam NATO, memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Jerusalem yang dijadikan ibukota baru Israel. Sejak itu, baik Israel mau pun Turki belum menunjuk dubes masing-masing, baik berkedudukan di Ankara mau pun Tel Aviv.
Mesir menormalisasi hubungan dengan Israel melalui mediasi oleh Amerika Serikat di bawah Presiden Jimmy Carter dengan ditandatanganinya Perjanjian Camp David 1978 antara PM Israel dan Menachem Begin dan Presiden Mesir Anwar Sadat, 17 Sept. 1978.
Langkah Mesir diikuti Yordania yang sepakat menjalin hubungan baik dan menkahiri permusuhan dengan ditandatanganinya perjanjian damai oleh PM Israel Yittzhak Rabin dan PM Yordania Abdelsalam Majali di Arabah, Yordania, 17 Okt. 1994.
Bahrain dan Uni Emirat Arab menandatangani kesepakatan Abraham (Abraham Acoord) dengan Israel, disusul oleh Sudan dan Maroko menambah deretan negara-negara kubu Arab yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel ada 2020.
Arab Saudi, negara kiblat umat Islam, sejauh ini secara resmi tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel, namun kontak-kontak antara pemimpin kedua negara kabarnya terus berlangsung.
Tentu saja Palestina sebagai pihak yang paling dikcecewakan atas kesepakatan-kesepakatan perdamaian antara Arab dan Israel karena perjuangannya untuk mendapatkan kembali wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yeruslem Timur yang diduduki Israel makin berat.
Tidak ada lawan atau kawan yang permanen atau kekal, yang abadi hanya lah kepentingan.




