Turki dan Yunani Bersitegang, NATO Bimbang

Armada AL Yunani sedang bermanuver di Laut Mediteranea timur. Turki dan Yunani yang sesama anggota NATO bersengketa di titik pengeboran minyak di wilayah itu.

SENGKETA wilayah yang memanas antara Turki dan Yunani akhir-akhir ini menyulitkan bagi Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk memihak salah satunya, karena kedua negara sama-sama negara anggota pertahanan regional tersebut.

Yunani mengklaim, lokasi pengeboran migas di Laut Mediteranea timur antara Pulau Kreta dan Kastellonzo berada di kawasan Zona Ekonomi Esklusif (ZEE)-nya, sedangkan Turki yang memiliki garis pantai panjang juga menyatakan, wilayah itu berada di dalam teritorialnya.

Turki bersama rezim Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) di bawah PM Fayez al-Sarraj berkolaborasi melakukan eksploitasi cadangan migas tersebut dan sejak pekan lalu mengirimkan kapal survei didukung dua kapal perang ke sana.

Itu yang membuat berang Menhan Yunani Nikos Panagiotopoulos dan menyatakan negaranya walau tidak ingin berperang, namun siap menghadapi agresi Turki di wilayah teritorialnya di titik pengeboran migas di Laut Mediteranea Timur.

Yunani pernah terlibat perang dengan Gerakan Nasional Turki pada 1919-1922 atau disebut Perang Asia Kecil akibat pembagian wilayah Kesultanan Utsmaniyah pasca Perang Dunia I yang berakhir dengan berdirinya negara Turki modern.

Perbedaan keyakinan, Turki walau pun negara sekuler, dengan 65 persen dari 80 juta penduduknya memeluk agama Islam Sunni, sementara Yunani yang 90 persen dari 10-juta warganya pemeluk Kristen Ortodox juga sering memicu gesekan di tingkat akar rumput.

Yunani menentang keras alih fungsi  museum Hagia Sophia di Istanbul menjadi masjid oleh pemerintah Turki baru-baru ini, sebaliknya pengibaran bendera Kerajaan Byzantium di sebuah masjid di Siprus Yunani beberapa waktu lalu juga memicu kemarahan rakyat Turki.

Yunani Anggota UE, Turki Belum

Yunani merupakan salah satu dari 27 negara yang tergabung dengan Uni Eropa (UE), sementara Turki walau pun bukan anggota UE-karena terganjal  isu HAM- berhubungan baik dengan perhimpunan negara-negara Eropa itu.

Turki menurut Global Firepower 2020, dengan anggaran belanja militer  19 milyar dollar AS (sekitar Rp279,3 triliun) menempati ranking ke-11 dunia) dengan 355.000 personil aktif, di atas kertas jauh mengungguli  Yunani dengan anggaran militer 4,9 milyar dollar AS (sekitar Rp72,03 triliun) atau ranking ke-33 dengan 200.000 personil tetap.

AU Turki berkekuatan 1.055 pesawat udara, 206 unit diantaranya pesawat tempur F-16 seri C/D dan Phantom II F-4 buatan AS serta Mirage 2000 eks- Perancis, ditambah 497 helikopter seperti angkut berat CH-47 Chnook, heli serang AH-1 Cobra dan UH-60 Black Hawk (semua eks-AS).

Sebaliknya, AU Yunani juga memiliki pesawat-pesawat sejenis seperti F-16 C/D, Phantom II F-4 dan Mirage 2000, namun jumahnya jauh lebih kecil, seluruhnya 187 pesawat ditambah 29 helikopter.

Matra darat Turki juga jauh lebih perkasa, didukung 2.622 tank (Leopard eks-Jerman, M-60 Patton eks-AS dan Altay buatan lokal), 8.700 kendaraan lapis baja, 1.260 artileri medan dan 547 peluncur  roket.

AD Yunani didukung 1.055 tank a.l. AMX-30 eks- Perancis dan M-60 Patton eks-AS, 3.691 kendaraan lapis baja, 547 artileri medan dan 152 peluncur roket.

Di laut, Turki juga mengunguli Yunani dengan 149 kapal perang, termasuk 12 kapal selam eks-Jerman, 26 Fregat, 10 korvet dan 35 penjaga pantai, sebaliknya Yunani didukung 116 kapal perang, a.l. 11 kapal selam, 13 fregat dan 35 penjaga pantai.

Walau masih sebatas perang kata, Menlu Jerman Heiko Maas terus mencoba membujuk kedua negara agar kembali ke meja perundingan dan tidak “bermain api” menyulut konflik yang bakal merugikan semua pihak.

Perang kemungkinan tidak terjadi, karena agaknya cuma untuk mengalihkan isu dalam negeri, terutama Yunani yang ekonominya baru merambat bangkit pasca gagal bayar utang sebesar 1,6 milyar Euro dari IMF pada 2015,  dan kini terkena imbas Covid-19.

Lagi pula kalau perang, nggak ada yang bakal membantu, keduanya  sesama keluarga besar NATO.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement