UEA:  Pelanduk di Tengah Konflik Gajah

Uni Emirat Arab (UEA), negara kecil penghasil petro dollar di kawasan Teluk yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Negeri ini berupaya menjalin hubungan baik dengan negara-negara sekawasan yang berkonflik dan saling berebut pengaruh.

UNI Emirat Arab (UEA), negara di kawasan Teluk secara geopolitik berada di kawasan Timur Tengah yang sarat dengan perebutan hegemoni antara Iran, Arab Saudi dan Turki serta  konflik berkepanjangan kubu Arab dan Palestina melawan Israel.

Itu lah agaknya alasan negara petro dollar seluas 83.600 Km2 yang hanya berpenduduk sekitar 9,9 juta, sebagian ekspatriat (tenaga kerja) dari sejumlah negara Asia itu, harus “pandai-pandai meniti buih”.

Dengan menjalin hubungan baik, merangkul kubu kedua belah pihak yang bertikai, diharapkan negeri para Emir tersebut tidak terseret-seret bahkan bisa tergencet di tengah pusaran konflik.

Dengan negara Yahudi, Israel – musuh bebuyutan negara-negara Arab – UEA telah menandatangani Kesepakatan Abraham (Abraham Accord) pada 2020 untuk memulihkan kembali hubungan diplomatik seperti yang dilakukan oleh Bahrain, Maroko dan Sudan.

Bedanya,  UEA bergerak lebih cepat dari ketiga negara lainnya, langsung “tancap gas” melakukan sejumlah langkah kongkrit dengan saling-kunjung antarpemimpin tertinggi mereka.

Penguasa UAE saat ini Putera Mahkota Mohammed bin Zayed al-Nahyan alias MBZ mengundang PM baru Israel Naftali Beneth, Senin lalu (13/12). Benneth adalah PM Israel pertama yang melawat ke UAE pasca Kesepakatan Abraham, Agustus  2020.

Tak hanya mendekati Israel, dengan Iran yang menjadi seteru utama Israel, UAE mengutus Kepala Penasehat Keamanan UEA Sheikh Tahnoon bin Zayed al_Nahyan berkujung ke Taheran untuk menyampaikan undangan bagi Presiden Iran Ebrahim Raisi melawat  ke UAE.

Berinvestasi di Israel

Setelah saling membuka kantor kedubes (di Tel Aviv dan Dubai) Januari lalu, kemajuan signifikan lainnya yang dicapai antara kedua negara yakni ditandatanganinya kerjasama investasi UEA bernilai 10 miliar dollar AS (Rp142 triliun) di bidang industri strategis di Israel.

Lebih jauh lagi, Israel dan UEA juga menandatangani kerjasama pengembangan industri militer antara lain pembuatan kapal perang anti kapal selam dan kapal pengintai pada November lalu.

Namun tak hanya berbaik-baik dengan negara-negara di kawasan yang saling berebut pengaruh dan terlibat konflik berkepanjangan, UEA diam-diam juga membangun kekuatan militer yang walau kecil posturnya tetapi cukup canggih.

Anggaran belanja militer UEA, menurut Global Firepower 2021, sebesar 23, 195 miliar dollar AS (sekitarRp329 triliun) atau menempati urutan ke-25 dari 140 negara.

Berkekuatan 65.000 angota pasukan tetap dan 90.000 cadangan, AB UAE mengoperasikan alutsista yang tergolong canggih dan mematikan.

Matra darat misalnya, a.l. didukung 440 tank tank tempur utama Leclerck buatan Perancis, 415 tank ringan amfibi BMP-3 dan 240 peluncur roket berlaras banyak (multiple launcher) buatan Rusia.

AL UEA mengoperasikan sembilan kapal jenis korvet, 38 kapal patroli dan dua penyapu ranjau, sedangkan AU-nya cukup mumpuni dengan ragam 552 pesawat, termasuk 80 pesawat tempur Fighting Falcon F-16E (buatan AS) dan 60 unit Mirage 2000 (Perancis), juga sejumlah helikopter serang (AH64 Apache dan UH-60 Black Hawk, AS).

UEA juga baru saja (3 Desember lalu) menandatangani kontrak pembelian alutsista besar-besaran senilai 19,2 miliar dollar AS (sekitar Rp277 triliun) dengan Perancis untuk pembelian 80 unit pesawat tempur multi peran generasi 4.5 Dassault Rafale dan 12 heli tempur Caracal. Sebagai perbandingan, anggaran militer RI 2021 saja totalnya hana Rp133 triliunan atau kurang separuh dari nilai transaksi tersebut.

UEA negara kecil yang kaya dan tidak bisa dipandang sebelah mata di kawasan Timur Tengah dan Teluk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement