SETELAH Covid-19 mereda, masyarakat kembali bebas menggelar undangan perkawinan. Tapi lantaran perekonomian belum pulih benar, banyaknya undangan resepsi perkawinan ataupun sunatan, jadi masalah buat kantong yang diundang. Tapi ada lho, gara-gara tak diundang perkawinan, dia jadi dendam. Bukan dendam pada sang pengantin saja, tapi juga pada Icha (36) yang kondangan sendiri tanpa mengajaknya. Dendamnya pun tak sekedar memusuhi, tapi membunuhnya! Dialah Rudolf Tobing (36) si pembunuh berdarah dingin.
Dalam kondisi banyak orang kristong (krisis kantong), mendengar kawan menikah malah tak diundang, mestinya malah “bersyukur”. Tapi Rudolf Tobing tidak begitu, dia malah jadi dendam kesumat. Dia ingin menghabisi S yang baru saja jadi pengantin, juga Icha dan H. Mereka awalnya bergaul akrab karena ada hubungan bisnis HT. Tapi lantaran ada yang bermain curang, berimbas Rudolf Tobing dikucilkan.
Dendam Rudolf mencapai puncaknya ketika S menikah, tapi dirinya tak diundang, sementara Icha dan H musuhnya juga diundang. Sejak Agustus 2022 dia berencana hendak membunuh tiga relasinya tersebut. Tapi dari 3 orang itu, yang mudah dijangkau ternyata hanyalah si malang Icha. Dengan pura-pura mau diajak main podcast ala Deddy Corbuzier, Icha pun diundang ke apartemen Jl. Pramuka, Jakpus, yang disewanya sehari Rp 400.000,-
Di sinilah Icha berhasil dihabisi lewat tangan sendiri. Sebetulnya Rudolf pernah mau pakai jasa pembunuh bayaran, tapi tarifnya muahal banget meski tanpa PPN 11 persen. Akhirnya ditangani sendiri, dan sukses! Tapi yang namanya menghilangkan nyawa orang, cepat atau lambat pastilah terbongkar. Karung mayat Icha yang ditemukan di bawah tol Becakayu Pondok Gede, akhirnya menuntun polisi untuk menangkap Rudolf (18/10) saat mau menjual laptob korban di Pondok Gede.
Orang sungguh tak menyangka, Rudolf Tobing yang konon pernah jadi pendeta, kok bisa sekejam itu pada umat sesamanya. Rudolf yang gundul kepalanya, ternyata gundul pula kebaikan dan kebajikan dari hatinya. Padahal tokoh-tokoh yang pakai nama Tobing orangnya baik-baik. Ada pemusik Gordon Tobing, ada pengarang buku berhitung SIAP dan Ilmu Aljabar bernama Lumban Tobing. Bahkan dr. Naek L. Tobing almarhum adalah konsultan seks yang berhasil menolong banyak kalangan tak bahagia dalam urusan ranjangnya.
Rambut Rudolf yang terlalu pendek (gundul) rupanya bikin dia berpikiran pendek. Tak diundang perkawinan sahabatnya ya sudah, mungkin dia lupa saat bikin konsep. Malah untung kan, tak keluar anggaran untuk menghadiri undangan perkawinan. Jadi santai aja Brow, jangan malah mengedepankan emosi. Coba sekarang, gara-gara pembunuhan yang direncanakan, Rudolf Tobing bisa dihukum mati, atau paling tidak hukuman seumur hidup. Membunuh orang, terbunuh pula karier ente ke depan.
Terlepas kekejaman Rudolf gara-gara undangan, jaman sekarang orang ngundang kadang sudah terlalu berterus terang, kehilangan basa-basi. Masak dalam kartu undangan ditulis: tidak menerima sumbangan bentuk kado. Bahkan ada yang tega menulis: Maaf yang tak bisa hadir persilakan transver ke rekening BCA sekian-sekian. Bener-bener nekad, tak bisa hadir orangnya masih juga dikejar transverannya.
Penulis punya sahabat yang pernah jadi Dekan Fakultas di UGM, setiap bulan baik dia pusing membagi gajinya untuk nyumbang relasi yang punya hajatan. Bahkan ada pula calon mertua yang mengejar-ngejar calon mantu untuk segera menikahi putrinya. “Mumpung aku belum pensiun!” begitu alasannya. Apakah khawatir, jika sudah pensiun tamunya jadi berkurang dan omset sumbangan juga mengecil?
Di tahun 1980-an ada penulis bernama Muharyo mengupas soal “Perusahaan Mantu” di majalah Kartini, diprotes pembacanya karena menelanjangi orang mantu mengejar target sumbangan. Ada juga orang yang hobinya nyebar undangan, yang mantu keluarganya bukan dia sendiri tapi hampir semua teman diundang. Paling tragis, di Sukapura Jakarta Utara pernah terjadi seorang bapak mau gantung diri sehabis mantu, karena sumbangan tidak BEP (balik modal) dari biasa yang dikeluarkan.
Paling sial mungkin pengalaman penulis sendiri saat tinggal di Solo dan bekerja di koran minggu “Parikesit” tahun 1974-an. Mengontrak kamar Rp 7.500,- setahun, baru jalan 6 bulan “diusir” karena rumah seluruhnya mau dikontrakkan. Ceritanya dia habis mantu, tapi tekor karena sumbangan tidak nutup. Penulis tak tega bertahan, apa lagi biaya kontrak selama 1 tahun dikembalikan penuh.
Makanya undangan menghadiri pernikahan jangan ditarget demi mengejar omset. Punya hajatan sederhana saja jika tidak mampu. Jangan memaksakan diri. Salah-salah bisa bernasib seperti Sekretaris MA Nurhadi, beberapa lama setelah mantu ditangkap KPK. Kemewahan dia mantu sangat terasa, selain berlangsung di hotel berbintang Senayan, para tamu juga dapat souvenir berupa HP android. Tapi asal tahu saja, Nurhadi ditangkap bukan urusan mantunya, melainkan sambilannya di MA sebagai markus alias makelar kasus. (Cantrik Metaram)





