PARIS—Badan PBB untuk Pendidikan, Sosial, dan Budaya (UNESCO) melansir, hampir 16 juta anak perempuan tidak memiliki kesempatan duduk di bangku sekolah. Mereka berada di kelompok usia antara 6-11 tahun. Jumlah ini dua kali lipat dibanding anak laki-laki yang mencapai 8 juta jiwa.
Dalam publikasinya, UNESCO menilai, masih terjadi diskriminasi gender dalam pemenuhan hak pendidikan bagi anak. Meski demikian, kondisi saat ini diakui lebih baik dibanding 20 tahun lalu. “Disparitas gender tertinggi di negara-negara Arab, sub-Sahara Afrika, Asia Selatan, dan Asia Barat,” ujar Katja Frostell dari UNESCO Institute for Statistics dalam siaran pers-nya yang diakses Kamis (3/3/2016).
Dilaporkan, di sub-Sahara Afrika, ada 9,5 juta anak perempuan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah dasar. Sementara di wilayah yang sama, 5 juta anak laki-laki memiliki nasib yang sama. “Secara total, lebih dari 30 juta anak usia 6 sampai 11 tahun putus sekolah di seluruh wilayah,” tambahnya.
UNESCO juga melaporkan, kesenjangan gender bahkan lebih besar terjadi di Asia Selatan dan Asia Barat. Di wilayah ini, 80% dari murid perempuan tidak diperkenankan masuk ke pendidikan formal. Angka ini berbanding dengan anak laki-laki yang mencapai 16 %. “Ini terjadi pada sekitar 4 juta anak perempuan,” tukasnya.
Kondisi ini membuat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sulit dicapai. “(SDGs) ini sulit tercapai tanpa mengatasi diskriminasi dan kemiskinan yang menghambat kehidupan anak perempuan dan perempuan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova.
“Kita harus bekerja di semua tingkatan, dari akar rumput hingga pemimpin global, untuk menempatkan ekuitas dan inklusi di di setiap kebijakan, sehingga semua anak perempuan, apa pun keadaan mereka, bisa pergi ke sekolah, dan menjadi warga negara diberdayakan,” seraya menambahkan.





