HYDERABAD (KBK) – Sebuah universitas di India Selatan, Hyderabad Central University ditutup sementara, setelah gelombang protes terus menerus dari insan pendidikan di India, yang meminta pihak kampus bertanggungjawab atas kematian seorang mahasiswa S3.
Rohith Vemula dilaporkan bunuh diri, pada hari Ahad (17/1/2016) di dalam kampus Hyderabad Central University. Teman-teman Vemula menyalahkan pejabat universitas tersebut dan juga menteri federal atas kematiannya.
Vemula merupakan salah satu dari lima mahasiswa yang dihukum oleh kampusnya. Mereka diberikan sanksi atas penyerangan terhadap sekelompok mahasiswa lain pada bulan Agustus 2015 lalu.
Vemula bersama empat temannya lainnya, dilarang memasuki bangunan administrasi, hostel, perpustakaan, dan area kampus lainnya. Ia dan kawan-kawannya melawan kebijakan kampus tersebut. Mahasiswa lainnya juga ikut mendukung Vemula dan kawan-kawan dengan membentuk Komite Aksi Bersama untuk Keadilan Sosial (JAC) yang melawan keputusan universitas mengeluarkan Vemula dan kawan-kawan.
Salah satu aksi yang dilakukan Vemula dan kawan-kawan adalah tidur di tempat terbuka di halaman kampus, Ahad malam, Vemula berhasil memasuki asrama NRS dan mengunci diri dari dalam. Di kamar itu pula mengakhiri hidupnya, karena frustasi atas kebijakan kampus yang memecatnya jadi mahasiswa kampus tersebut.
Vemula sendiri sudah 2 tahun menuntut ilmu untuk meraih gelar PhD di kampus tersebut. Ia menekuni bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Penelitian Masyarakat.
Atas kejadian ini, akhirnya pihak universitas memerintahkan penyelidikan atas keputusan akhir yang dikeluarkan dewan kampus yang menyebabkan pengusiran Vemula bersama dengan empat orang lainnya yang berujung pada kematian Vemula. -BBC/Indiatimes




