Urip Pura-pura Mati

Urip akhirnya nyerah diperiksa polisi, sebab tak kuat tahan napas terlalu lama.

NAMANYA Urip Saputra (40), tapi kepengin mati gara-gara terlilit utang Rp 1,5 miliar di kantornya. Bukan bunuh diri, sebab bisa mati beneran. Urip hanya ingin mati sebagai sandiwara satu babak. Harapannya, dia bisa bebas dari utang yang sangat memberatkan itu. Tapi dia kurang pinter mengelabui polisi, sehingga baru langkah awal sudah ketahuan bohongnya. Ya langsung ditangkap Polres Bogor lah.

Orang mati beneran, dalam arti baru saja dihampiri malaikat Izroil, langkah pertama keluarga harus mengurus surat kematian. Jika tak ada itu, TPU manapun akan menolak untuk jadi tempat pemakaman almarhum/almarhumah. Surat kematian itu juga perlu untuk mengurus hak waris dan juga dana pensiun bagi keluarga yang ditinggalkan jika ASN.

Urip Saputro dari Rancabungur, karena belum pengalaman mati, tidak tahu prosedur itu. Dikiranya cukup masuk peti jenasah, tahan napas jika ada yang mendekat bacakan doa, lalu peti ditutup kembali; selesai. Padahal ditutup dalam peti tanpa udara, selain gerah juga bisa mati beneran karena tak ada oksigen. Memangnya pura-pura mati itu enak.

Di kantornya di kota Bogor, Urip Saputra dipercaya mengelola keuangan organisasi. Tapi ketika melihat uang miliaran dalam kas, matanya langsung jadi ijo. Uang itu diambil sebagian secara berkali-kali. Selain untuk biaya hidup sehari-hari, juga beli rumah. Keren deh pokoknya Urip Saputra.

Menjelang tutup buku di akhir tahun, keuangan diperiksa. Lho minus Rp 1,5 milyar. Akhirnya ketahuan bahwa uang itu dipakai sendiri. Untung kantornya baik, Urip diberi kesempatan untuk segera menutup kekurangan itu, entah bagaimana caranya. Tentu saja Urip kelabakan.

Kalau dirinya Youtuber macam Dedy Corbuzier atau Baim Wong dan Rafi Ahmad, uang Rp 1,5 miliar kecilah itu. Urip yang hanya pegawai biasa dengan gaji juga  biasa, terpaksa setiap ditagih kantonya hanya bisa menjawab tar sok, tar sok melulu. Hidup Urip Saputra pun jadi tidak tenang, setiap ada orang mencari dia di rumahnya, langsung belingsatan, macam koruptor dikejar KPK. Lha memang dia juga koruptor!

Saking pusingnya dikejar-kejar utang, munculah gagasan untuk mematikan diri sendiri. Bukan bunuh diri, tapi pura-pura mati, agar terbebas dari tuntutan. Awalnya istri mengingatkan, jika ketahuan bisa terkena pidana dan masuk penjara. Tapi  Urip Saputra berusaha meyakinkan istri, bahwa permainannya rapijali, sehingga dijamin tak ketahuan polisi. Akhirnya istri pun ikut mendukungnya.

Tapi teori  tak selalu sama dengan prakteknya. Ketika dia sudah dalam peti mati langkap dengan baju kematian, para tetangga melayat. Tapi diam tahan napas lama-lama juga sangat menyiksa. Akhirnya dia ambil napas dan gegerlah warga, Urip yang sudah mati hidup kembali.

Polisi tak semudah itu dikelabui Urip Saputra. Keluarga ditanya surat kematian mana, tak bisa menunjukkan. Lha memang tak sempat kepikiran ngurus. Diurus pun tidak mudah, sebab harus ada keterangan dari dokter yang merawatnya atau pejabat di bagian itu. Karena tak bisa menunjukkan, Urip Saputra dan istri kena pasal penipuan,bahkan penipuan yang direncanakan. Ketika polisi menyasar informasi ke kantor Urip, semakin panjanglah hidung pinokio Urip.

Begitulah resiko orang berutang. Ketika baru memperolehnya, rasanya seperti menang lotre. Tapi giliran harus membayar rasanya seperti dirampok. Di rampokpun jika masih ada uangnya masih mending. Lha Urip Saputra ini, setiap didatangi penagih termasuk yang dari kantor, harus mengarang sejuta alasan, yang intinya minta ditunda.

Atau Urip Saputra mau meniru maskapai Garuda Indonesia saja? Ketika penerbangan plat merah itu terbelit utang sampai USD 9,8 miliar bisa direstrukturisasi, tentunya dia yang hanya utang Rp 1,5 miliar bisa banget minta penundaan. Tapi pihak pemberi utang bisa menyetujui, sebab asset Garuda masih lebih besar ketimbang utangnya. Lha kalau utang Urip direstrukturisasi, asetnya apa yang bisa diandalkan. Aset miliknya cukup tidak untuk menutupi utang-utangnya?

Dalam perspektif Islam, ada upaya-upaya yang Insya Allah bisa bikin utang cepat terbayar. Misalnya rajin salat malam, juga membaca doa sebagaimana yang diajarkan Nabi: Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal khazani wa a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzubika minal jubni wal bukhli wa a’uudzubika min gholabatid daiyni waqahrir rijaali.

Sedangkan Urip Saputra non muslim, dengan demikian tak mungkin melakukan amalan-amalan seperti itu. Yang jelas, karena Urip Saputra salah dalam menyikapi permalasahan yang dihadapi, akhirnya malah bertambah masalah. Maka sebaiknya sebelum jadi urusan polisi, Urip Saputra dan istri datang saja ke Kantor Pegadaian. Sebab hanya lembaga itu yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement