JAKARTA – Di Padukuhan Sandang, Kelurahan Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo, DIY, hidup seorang nenek berumur 117 tahun. Mbah Suparni namanya. Meski usianya sudah lebih dari seabad penglihatan dan pendengarannya baik. Bahkan Mbah Suparni masih bisa berjualan.
Setiap harinya ia masih beraktivitas menjual jamu dan kain selendang bahkan membuat tambang.
“Membuat tali tampar cuma buat sambilan saja. Yang utama itu jualan jamu dan selendang keliling desa setiap siang,” ujar Suparni dilansir dari instagram @sayaphati.
Saat Indonesia merdeka di tahun 1945, Suparni pindah ke Kulonprogo setelah menikah dengan Karto Pawiro. Suparni sendiri asli Purworejo, Jawa Tengah. Dari pernikahannya Suparni dikaruniai dua anak. Kini empat cucu dan enam cicit telah meramaikan keluarganya.
“Saya tidak punya KTP KK. Dulu dibawa adik. Tapi saya masih ingat saat zaman Belanda,” terang Suparni.
Pernah hidup di era kolonial membuat Suparni memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan Jepang. Bahkan Suparni masih fasih menggunakan bahasa tersebut. Suparni juga fasih menyanyikan beberapa lagu yang dipelajarinya saat zaman Belanda dan Jepang.
Yang hebatnya lagi Suparni jarang mengeluh sakit. Selama hidup Suparni masuk rumah sakit masih bisa dihitung dengan jari. kesehatan dan kondisi fisik yang baik tak lepas dari selalu berpikir positif selama hidup baik saat ada masalah maupun tidak.
“resepnya pikiran. Walaupun kere tapi pikirannya asal merasa punya. Pola makan juga mesti dijaga, hidup di dunia jangan yang aneh-aneh. Lima hari tak makan juga tidak masalah,” bebernya.
Berkat menjaga makanan dan pikiran, kondisi fisik Suparni nampak bugar. Padahal setiap hari Suparni selalu tidur di luar rumah. Baginya, tidur di luar rumah lebih nyaman dibandingkan di dalam rumah.
“Enak tidur di luar rumah. Tidak dinginkan sudah diselimuti oleh Tuhan,” pungkas Suparni.
Suparni merupakan sosok yang mandiri. Urusan tempat tinggal, dia lebih memilih hidup di gubuk kayu berdinding bambu dengan ukuran 3×3 meter sendirian, dibandingkan harus merepotkan anak dan cucunya. Radio tua menjadi teman sehari-harinya.
“Lebih nyaman tinggal di gubuk sendirian daripada merepotkan anak cucu. Lha tinggal di gubuk sendirian aku ya tidak pernah sakit kok,” ucapnya.





