Usir Letihmu di Sini

Ketua Umum FOZ terpilih, Bambang Suherman mendapat layanan pijat dari Paidam. Foto: Maifil/KBK

LOMBOK – Ada yang menarik di sela-sela Musyawarah Nasional (Munas) Forum Zakat VIII di Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 1-3 Februari 2018 lalu.

Di sela agenda padat peserta Munas yang berasal dari pegiat zakat se-nusantara, Aceh – Papua itu, ada sebuah stand di luar ruang sidang yang sangat menarik.

Stand itu bertuliskan, “Usir Letihmu di Sini”. Di stand itu sudah standby seorang lelaki berkacamata hitam. Ia-lah lakon utamanya di stand itu. Ia akrab dipanggil Paidam, 35 tahun.

Paidam merupakan putra asli NTB, kepada KBK dikisahkannya, kalau dulu ia terlahir normal sampai umur dua tahun. Tiba-tiba penyakit cacar membuat ia harus kehilangan fungsi kedua matanya.

“Sejak umur dua tahun itu saya sudah menjadi tuna netra,” kisah Paidam.

Sibungsu dari 9 bersaudara ini, hanya satu-satunya yang mendapat cobaan ini di dalam keluarganya. Meski ia tunanetra, ia tidak mau menjadi pengemis dan meminta belas kasihan pada orang lain.

Ia asah kemampuannya secara otodidak dan lembaga pendidikan. Ia belajar di sekolah Luar Biasa ke Malang selama 2 tahun. Di sekolah ini kemampuan Paidam diasah. Ia belajar musik, sehingga semua alat musik mampu ia mainkan. Ia pun belajar massage (pijat).

Selain pijat dan musik, ia juga menguasai Obat-obat tradisional dan Keterampilan tangan. Setelah dua tahun belajar, dari 40 orang murid seangkatan dengan dia, hanya 10 orang saja yang lulus bersamaan Paidam.

Meskipun Paidam menguasai di 4 bidang keterampilan, Paidam lebih memilih membuka praktek pijat, karena menurutnya pijat itu dibutuhkan kapan saja.

“Setiap hari orang butuh penyegaran, sedangkan kalau seni hanya dibutuhkan waktu-waktu tertentu saja,” katanya.

Dengan fokus ke Pijat itu, Paidam merantau ke Batam selama 15 tahun dan berkerja sebagai tukang pijat di sana. Ia pun kembali dan menikah dengan orang sekampung dengannya, kini ia sudah dianugerahkan 3 orang anak. Dengan pijat itulah ia menafkahi keluarganya.

“Isterinya dan anak-anak saya, alhamdulillah normal semua. Jadi isteri yang merawat anak-anak di rumah, sementara saya ke mana-mana memijat orang,” jelas Paidam.

Sejak pindah dari Batam, kini Paidam sudah 12 tahun lamanya kembali ke NTB dan membuka praktik pijat.

Namun bagi Paidam, keahlian pijat yang dia miliki tidak hanya digunakan untuk mencari nafkah dunia, ia pun gunakan keahliannya untuk bekal akhirat dengan menjadi relawan pijat bersama LKC Dompet Dhuafa Cabang NTB. Bagi LKC Dompet Dhuafa NTB, Paidam dibukakan stand di acara Munas FOZ tersebut. Di sinilah ia memberikan layanan cuma-cuma kepada peserta Munas FOZ VIII, yang ingin mengusir letih selama bersidang.

Kali ini merupakan yang kedua kali ia menjadi relawan pijat di acara besar yang dibawa LKC Dompet Dhuafa NTB. Tahun lalu, aku Paidam, lebih dari 150 orang yang mendapatkan layanan pijat gratis darinya. Jadi kalau peserta sidang FOZ capai dan letih, mereka pun mengunjungi stand Paidam untuk mengusirnya. Sekali pijat, letih pun minggat.

Advertisement