Utang Budaya Bangsa?

Awas, sepeda motor yang dibeli dari leasing, knalpotnya akan berbunyi: dit, dit, dit kredit.....

KETIKA utang sudah menjadi hak semua anak bangsa, pada akhirnya utang akan menjadi budaya bangsa. Semua orang berlomba-lomba membuat utang. Jangankan rakyat tidak berutang, negara saja sangat getol membuat utang. Makanya dari jaman Pak Harto hingga Jokowi sekarang, utang RI tak pernah impas. Bahkan kata ahli ekonomi berdasarkan jumlah penduduk Indonesia, utang kita bisa lunas seketika, manakala setiap jiwa warga negara Indonesia ikut mencicil Rp 15,4 juta.

Sejak jaman Orde Baru ada humor yang mengatakan demikian: kenapa bayi begitu lahir langsung menangis? Ada yang menjawab sudah kodrat, ada yang mengatakan: kaget lantaran ganti suasana alam, dari perut sang ibu ke alam dunia yang fana. Tapi semua salah, karena yang benar: bayi itu sedih, karena begitu lahir ke dunia sudah dibebani utang negara Rp 15,4 juta perjiwa.

Para orangtua sering mengatakan, paling tenang hidupnya adalah orang yang seumur hidup tak punya utang. Maksudnya tentu saja utang dalam bentuk utang. Jika utang budi, setiap orang akan selalu mengalami, itu sebuah konsekwensi dari kehidupan makhluk sosial, yang selalu saling membutuhkan satu sama lain. Maka kata orangtua dulu, orang tidak punya utang akan bisa tidur nyenyak, makan dan BAB juga enak.

Lihat saja orang-orang yang punya utang, ketemu sang pemberi utang hati menjadi tidak nyaman, belingsatan, meski sononya tak bermaksud menagih.   Bahkan ada juga orang berutang ngumpet ketika dicari pemilik uang. Maka di majalah lama tahun 1960-an pernah dimuat lelucon mengenai orang yang terpaksa bersembunyi gara-gar ditagih utang. Sayangnya, dia bersembunti tak rapi, sehingga batok kepalanya terlihat. Maka si pemberi utang lalu berpesan pada anaknya, “Tong, bilang sama bapakmu ya, lain kali kalau pergi jangan sampai kepalanya ditinggal ya…..”

Jaman terus berkembang maju, dan sistim nilai dalam masyarakat pun bergeser. Dulu orang bertamu dijamu dengan air putih, dianggap keterlaluan, kayak ke rumah dukun saja. Padahal sekarang, kita bertamu selalu disajikan Aqua di atas meja. Maka jaman dulu utang yang dianggap hal memalukan, sekarang sudah menjadi hal biasa. Jangankan rakyat biasa, sedangkan negara saja utangnya sudah sampai tahap: arang kaya wulu kucing (banyak sekali) kata orang Jawa.

Jaman Pak Harto (Orde Baru) utang RI hingga Mei 1998 sebanyak Rp 551,4 triliun. Jaman Gus Dur Rp 1.271,4 triliun, Megawati Rp 1.298 triliun, dan SBY (dua priode) langsung meloncat jadi Rp 2.608,8 triliun. Tapi pada  pemerintahan Jokowi-JK lebih hebat lagi, utang Luar Negeri RI mencapai Rp 3.667,41 trilyiun, di mana untuk infrastruktur saja mencapai Rp 409 triliun. Nah, gara-gara ini, maka ada yang bikin itung-itungan sinis, jika mau lunas, perjiwa bangsa Indonesia harus membayar Rp 15,4 juta.

Walhasil, jika rakyat Indonesia banyak yang demen utang, jaman sekarang tidak perlu malu, sampai bunuh diri sebagaimana bintang film Marlia Hardi di tahun 1980-an. Yang sering kejadian sekarang, ditagih utang malah dibayar dengan nyawa. Ini sering kejadian di mana-mana. Inilah bedanya dulu dan sekarang. Dulu, utang gethuk nyaur tela, sekarang utang duit bayar nyawa.

Bahkan  negara sendiri juga mendorong rakyatnya untuk berutang. Jika rakyat meninggalkan budaya utang, bank-bank bisa bangkrut dong. Makanya bank-bank makin getol mengobral pinjaman. Di mana-mana ada leasing (utang barang). Rumah, kendaraan kebanyakan hasil utang. Tapi janganlah kaget, mobil atau motor hasil leasing, perhatikan suara knalpotnya akan berbunyi:: dit, dit, dit,….kredit! (Cantrik Metaram)

Advertisement