SETELAH ada Islam Nusantara, kini ada pula Vaksin Nusantara. Sama-sama berlabel nusantara, akhirnya nasibnya hampir sama. Maksudnya, sama-sama diemohi oleh sekelompok pihak. Islam Nusantaranya NU diemohi MUI Sumatera Barat sementara Vaksin Nusantaranya dr. Terawan ditolak sejumlah ahli pandemiologi. Padahal tujuannya semua baik, tapi lalu ditambahi akan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
Secara etimologi, nusantara adalah berasal dari kata nusa (pulau) dan antara. Secara geografis, wilayah Indonesia memang terdiri antara pulau-pulau yang jumlahnya sampai 16.000-an, sehingga dalam lagu “Dari Sabang sampai Merauke” terdapat lirik berbunyi: …..berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menyadi satu, itulah Indonesia. Orang Indonesia memang harus bangga dengan bangsanya sendiri.
Kini yang tengah ramai dan menjadi polemik adalah munculnya Vaksin Nusantara, ketika Indonesia sedang berjuang memerangi virus Covid-19. Ini karya anak bangsa, penemunya pun bukan pemulung, tapi dokter ahli yang sudah punya jejak rekam. Tapi kenapa ditolak juga? Dikhawatirkan, ada persaingan bisnis medis di baliknya. Sebab di kala virus Covid-19 masih meruyak ke seluruh wilayah nusantara, berterbaran isyu: memasyarakatkan Covid dan meng-covidkan masyarakat. Maksudnya, pasien bukan Covd-19 pun ada yang dicovidkan agar menambah pemasukan bagi RS-nya.
Penemu atau inisiator pembuatan Vaksin Nusantara adalah mantan Menkes dr. Terawan Agus Putranto. Bekerjasama dengan Universitas Diponegoro dan RSUP Dokter Kariadi Semarang, sejak Oktober 2020 penelitian Vaksin Nusantara dilakukan. Setelah sukses tahapan uji klinis I, kini memasuki uji klinis tahap II. Bila sampai uji klinis tahap III tak ada masalah, Insya Allah bisa dijadikan vaksin resmi untuk melawan Virus Covid-19 dan B-117 yang juga mulai masuk Indonesia.
Siapa tak kenal dr. Terawan sebelum jadi menteri? Beliau adalah Kepala RSPAD Gatot Subroto. Dia adalah penemu cara pengobatan stroke secara aneh tapi cespleng. Dikatakan aneh karena kata IDI (Ikatan Dokter Indonesia) terapi “cuci otak” bertentangan dengan teori kedokteran. Tapi faktanya kok manjur dan banyak tokoh nasional seperti Prabowo Subianto, Jusuf Kalla dan AM Hendropriyono; berobat padanya. Coba kalau tak ketemu dr Terawan, mungkin Prabowo tak berani nyapres. Masak Capres kok jalan dengan kaki diseret dan tangan kaku seperti Gareng wayang?
Meski hampir dipecat dari IDI, tapi dr Terawan tak patah semangat. Dan ketika Indonesia diterpa Corona, dia mencoba membuat penelitian tentang vaksin Corona sendiri, ketimbang beli impor dengan harga mahal. Ini kan bisa mengurangi devisa negara. Boleh percaya boleh tidak, pemerintah untuk memvaksin 182 juta rakyatnya telah menyisihkan dana sampai Rp 23 triliun.
Harga vaksin impor itu perdosis di atas Rp 200.000,- sampai Rp 250.000,- Sedangkan Vaksin Nusantara karya anak bangsa, nantinya hanya berharga Rp 140.000,- perdosis. Kata dr. Terawan, vaksin itu permanen dan berlaku segala umur. Vaksin impor yang kini sudah disuntikkan di berbagai daerah kan dipilah-pilah, ada yang untuk 59 tahun ke bawah, ada pula yang untuk para anggur kolesom (baca: orangtua) berusia 59 tahun ke atas. Sedangkan karya dr Terawan nantinya Vaksin Nusantara bisa untuk siapa saja.
Vaksin temuan dr. Terawan sebetulnya sudah lama ada, tapi hanya untuk penderita kanker. Sebab vaksin tersebut diambil dari sel dendritik pada darah putih si pasien itu sendiri. Setelah mengalami masa inkubasi seminggu disuntikkan kembali ke pemilik darah putih itu kembali. Di situlah kekebalan atas Corona terjadi.
Kalangan ahli pandemiologi seperti dr. Pandu Riono dari UI, menilai cara seperti itu sangat ribet kalau dipakai untuk suntikan massal. Dan ketika diproses di luar tubuh pasien, bisa saja tertukar-tukar dengan milik orang lain, kan bisa jadi masalah. Uji klinisnya juga belum lengkap. Karenanya dia minta sebaiknya Vaksin Nusantara distop saja dan pemerintah jangan mau membiayainya.
Pihak IDI menghormati setiap kreatifitas setiap anak bangsa. Tapi soal Vaksin Nusantara ini sebagaimana kata dr. Zubeiri Jurban, belum pernah masuk dalam jurnal kedokteran. Seperti apa hasil uji klinis di RSUP dr. Karyadi dari tahap I-nya saja belum pernah lihat. Karenanya diminta dr. Terawan jangan terlalu cepat mengklaim bahwa vaksinnya punya antibodi seumur hidup. Dalam dunia kedokteran, kita tak bisa bikin kesimpulan berdasarkan logika, tapi bukti ilmiah.
Mana yang benar, tunggu saja hasil penelitian di RSUP dr. Kariadi itu sampai uji klinis tahap III. Andaikata telah lolos semuanya, termasuk lulus uji dari BPOM, akan membuktikan bahwa dr. Terawan memang ilmuwan kemanusiaan sejati. Meski sudah tersingkir dari kekuasaan tak membuatnya kecewa, tapi terus bekerja bagi nusa bangsanya di mana pun berada. (Cantrik Metaram)





