Vaksinasi Untuk Manula

Prof. Dr. Emil Salim mantan Menteri KLH saat menerima vaksin Covid-19 untuk lansia.

HINGGA awal Maret lalu, sebanyak 45.546 lansia (lanjut usia) di DKI Jakarta telah menjalani vaksinasi dosis pertama. Berbahagialah para jompowan dan jompowati, karena telah diperlakukan seperti ketika naik busway; yang tua diperioritaskan dapat tempat duduk. Padahal di awal penanggulangan Covid-19,  kalangan lansia atau manula dapat “perioritas” belakangan. Maksudnya mungkin, andaikan pun meninggal termakan Covid-19, toh sudah tidak produktif ini.

Untunglah, tak sampai sebegitunya kebijakan pemerintah. Ketika biaya vaksinasi dinol-rupiahkan, para lansia dipercepat penyuntikannya. Maka di berbagai kota dan daerah sudah jutaan yangkung dan yangti (kakek nenek) menerima vaksinasi. Lihatlah, di berbagai gedung sekolah yang tengah nganggur, kini dimanfaatkan untuk menyuntik para manula itu. Di Jakarta Timur misalnya, sehari vaksinasi pesertanya bisa mencapai lebih dari 500 orang.

Lansia memang manusia rentan, karena mulai diakrabi berbagai penyakit. Maka calon penerima vaksinasi diseleksi ketat. Yang punya komorbid (penyakit bawaan) sebagaimana jantung, gula, darah tinggi, tak serta merta bisa divaksin. Harus menunggu kondisi stabil secara jasmani dan rohani. Oleh karena itu, ketika menjalani pemeriksaan oleh para Nakes (tenaga kesehatan) harus berkata sejujurnya. Katakan saja apa penyakitnya. Jika berbohong, salah-salah bisa vatal akibatnya.

Seperti yang terjadi di Banyumas belum lama ini, dua lansia meninggal beberapa jam setelah divaksin. Saat ditanya dokter sebelum divaksin, ditanya dokter punya penyakit jantung nggak, Mbah? Keduanya menjawab tidak, padahal punya. Maka begitu disuntik langsung klepeg-klepeg. Gara-gara menciptakan kebohongan publik, niatya memperpanjang umur malah jadi memperpendek.

Memang pertayaan Nakes pada lansia kadang aneh. Sebelum disuntik ditanya, Indonesia kapan merdeka, siapa nama presiden RI sekarang. Ada juga seorang kakek usia menjelang 70 tahunan jadi kesal. Maka jawabnya, “Mbak, saya ini wartawan, pukul 03.00 sudah bangun baca berita detikcom. Masak ditanya begituan, ngetes ya?” Dokter wanita dan muda itu tertawa, rupanya dia sedang ngetes memorinya si kakek.

Ketika ditanya, masih kuat jalan sampai 200 meter nggak? Masih kuat naik tangga tidak. Punya keluhan sering pusing-pusing nggak? Ada juga kakek yang menjawab serius, “Saya pusing-pusing hanya setiap tanggal tua…..!” Lagi-lagi dokter tertawa, sebab penyakit pusing-pusing model beginian sudah masif bagi kalangan pensiunan.

Ada juga kakek yang GR. Ketika yang diukur bukan saja ketinggian dan berat badan, tapi juga lingkaran perut, dia langsung bertanya. “Lho mbak, nanti mau dapat seragam juga to ini?” Si Nakes hanya tertawa mengiyakan. Padahal mungkin dalam hatinya dia mau bilang, “Kalau meninggal gara-gara divaksin, seragamnya kain mori 2 meter.”

Tak hanya daerah, di Jakarta pun banyak kakek nenek yang tidak mau divaksin karena dicekoki informasi-informasi menyesatkan. Ada yang takut bernasib seperti manula di Banyumas, ada pula  yang takut karena vaksinya tak dijamin kehalalannya. Padahal Wapres Ma’ruf Amin yang mantan Ketua MUI sudah mengatakan, untuk obat barang halalpun bisa menjadi halal.

Dan paling lucu, ada sekelompok orang yang mau divaksin bila Prabowo sudah divaksian duluan. Wah, wah, …….vaksin Covid-19 kok dikait-kaitkan dengan Pilpres 2019 yang telah lewat. Agaknya orang-orang ini loyalis Capres 02. Apapun yang dilakukan Prabowo akan menjadi barometer dan panutan.

Ada kecemasan dari kalangan manula, jangan-jangan vaksin untuk mereka sudah menipis dan hampir habis. Sebab belum kama ini Menkes Budi Gunadi Sadikin bilang bahwa stok vaksin untuk bula Maret masih cukup, tapi Aprilnya belum jelas. Beruntung Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menjamin, jatah vaksin untuk Lansia masih cukup. Sebab target vaksin untuk masyarakat lansia telah dialokasi sekitar 21,5 juta dosis atau untuk 10,5 juta jiwa kakek nenek. Sabar-sabar semua bakal kebagian dan gratis lagi. (Cantrik Metaram)

Advertisement