“Wadah Jawi, Raos Islam”

Sufisme Jawa tumbuh berkat penyebaran agama Islam oleh para wali yang mengakomodasi praktik dan tradisi ritual pra-Islam. Para wali berdakwah melalui proses akulturasi budaya: mengintegrasikan dan mensinergikan ajaran Islam dengan praktik dan nilai-nilai budaya lokal.

Dakwah mereka menggunakan bahasa campuran Arab dan Jawa agar mudah dipahami. Para wali memasuki ranah budaya dengan mengarang tembang, menciptakan gamelan,wayang kulit beserta lakonnya.

“Wadah Jawi, raos Islam,” kata Ustadz Muhammad Adenan di Denpasar, Bali, kepada saya beberapa tahun lalu. Maksudnya, wadahnya tetap budaya Jawa, tetapi rasanya Islam. Yang penting rasanya, bukan wadahnya. Ustadz Adenan yang berasal dari Yogyakarta adalah guru Ary Ginanjar, pencetus ESQ.

Ustadz Adenan didukung oleh Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo, penulis buku “Memahami Islam Jawa”. Dalam ceramahnya di Kampus Bisnis Umar Usman, yang dikelola Dompet Dhuafa, awal Desember 2015, Prof. Bambang bertutur: “Yang penting isinya Islam, wadahnya tetap untuk sementara.” Idealnya, saya pikir, wadah dan isi sama pentingnya. Itu perlu waktu untuk proses transformasi.

Berbicara isi berarti menyoal tentang hati atau batin. Untuk itu, perlu “penyucian hati”. Orang Jawa sangat tertarik dengan ajakan para wali untuk “menyucikan hati” dengan jalan berpuasa atau menahan diri. Bagi orang Jawa, berpuasa, yang merupakan rukun Islam ketiga, setelah membaca Kalimat Syahadat dan mendirikan Shalat, bukan hal asing , karena ada ritual bertapa dalam agama Hindu.

Bertapa adalah mengasingkan diri ke tempat sepi, duduk bersila, diam, mengheningkan cipta, pantang makan, minum, melihat dan berbicara. Biasanya dipilih gua atau pohon besar di tengah hutan, puncak gunung atau pinggir lautan. Pokoknya, tempat yang sepi.

Ketika mendengar kisah bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertamanya saat bertapa di gua Hira, orang Jawa langsung “manggut-manggut”. Mengangguk-anggukkan kepala, tanda cocok. Maka, kewajiban berpuasa Ramadhan sebulan penuh dapat diterima dengan mudah, tanpa masalah.

Bahkan, puasa Ramadhan yang berdurasi mulai fajar merekah menjelang Subuh, sampai matahari tenggelam, dianggap ringan dibandingkan bertapa. Puasa sunah pun diterima dengan mudah. Puasa Senin-Kamis di pedesaan Jawa tahun 1950-1970, yang saya amati, berlangsung 24 jam. Mulai dari fajar merekah sampai fajar merekah keesokan harinya.Tanpa makan sahur.

Ada puasa sunah lainnya, yakni “poso mutih”, berpantang makan dan minum, kecuali nasi putih,tanpa lauk, tanpa garam dan minum air putih. Ada lagi “poso ngrowot”, yakni berpantang makan, kecuali umbi-umbian dan sayuran. Ada juga yang berpantang makan daging dan makhluk bernyawa, termasuk telur.

Ada lagi “poso ngebleng”, yakni berpuasa di “senthong”, bilik rumah Jawa, sendirian tanpa makan minum dalam keadaan gelap, tanpa penerangan, selama tiga hari tiga malam. Bahkan, ada yang sampai tujuh hari dan 30 sampai 40 hari . Ada pula “poso pati geni”, yakni pantang menyalakan api, termasuk merokok. Di Bali, ritual ini disebut “Nyepi”. Belum lagi “topo ngluweng”, yakni masuk “luweng” (lubang) atau dikubur, tapi dengan lubang udara selama 40 hari.

Di pesantren tradisional para santri dianjurkan melakukan berbagai puasa sunah sebagai bagian “riyadhah”. Selama menjalani “ngrowot”, para santri membaca tiga surat, yakni Al-Nas, Al Falaq dan Al Kautsar (QS: 114, 113 dan 108) sebanyak tiga kali setiap usai shalat Magrib. Tujuannya, menyucikan hati agar peka terhadap petunjuk Allah.

Advertisement