KEPRIHATINAN yang disampaikan mantan Menko Perekonomian dan Industri Kwik Kian Gie bahwa ia takut menyampaikan pendapat di ranah publik karena bisa diserang habis-habisan oleh buzzer patut dicamkan.
“Saya kini takut menyampaikan pendapat, nanti diserang para buzzer, sampai ke persoalan pribadi, padahal saya ingin menyampaikan alternatif pemikiran, siapa tau bermanfaat, “ tutur pakar ekonomi itu di cuitannya beberapa hari lalu.
Padahal, menurut dia di era Orde Baru dulu, ia sering menulis kolom terkait isu ekonomi di suatu harian terkemuka untuk menyampaikan kritik dan saran pada pemerintah sesuai keahliannya. “Dulu aman-aman saja, “ tuturnya.
Namun kritik yang dilontarkan Kwik tentu bukan kepada pemerintahan Presiden Jokowi tetapi perilaku para buzzer dan netizen di era kebebasan saat ini yang leluasa melontarkan apa saja atau menyerang siapa saja yang dianggap lawan.
Walau tidak berkomentar panjang lebar, agaknya juga takut diserang para buzzer, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti juga mengamini apa yang dikeluhkan Kwik KIan Gie.
“I am with you, Pak Kwik “ kata Susi singkat dalam cuitannya.
Tidak hanya para buzzer dan netizen saja, kader-kader partai atau politisi juga sering muncul dengan perdebatan tidak bermutu terutama di medsos, membawa-bawa isu SARA atau mempolitisasi agama untuk kepentingan mereka.
Publik agaknya sudah terbiasa menyaksikan caci-maki, saling buli dan melecehkan dalam dalam debat tentang isu apa saja terutama di medsos. Substansi argumentasi sering tidak diperlukan lagi, pemenangnya yang paling paling keras memaki atau menjatuhkan lawan debat.
Sikap saling hujat dan menyerang yang jadi santapan sehari-hari di medsos tersebut mewakili cerminan anjloknya Indeks Demokrasi yang dirilis the Economic Intelligence Unit (EIU) pekan ini.
Dalam laporannya EIU mencatat, Indonesia mendapatka skor 7,92 untuk proses pemilu dan pluralism, 7,5 untuk fungsi dan kinerja pemerintah, 6,11 untuk partisipasi politik, 4,8 untuk budaya politik dan 5,9 kebebasan sipil.
Skor yang dicapai Indonesia tahun ini yang terendah sejak 14 tahun terakhir ini walau secara umum indeks rata-rat global juga menurun di tengah pandemi Covid-19 saat ini dari 5,7 menjadi 5,44.
Skor 4,8 yang diperoleh terkait budaya politik agaknya mencerminkan sebagian perilaku elite, buzzer dan netizen dalam perdebatan atau menyampaikan agumentasi terutama di medsos dan ruang-ruang publik.
Tentu saja selain preseden buruk bagi pembelajaran publik termasuk anak-anak, sepak terjang mereka juga menciptakan stigma buruk dari pihak luar tentang adab dan etika yang berlaku di negeri ini.





