Waktu Dan Kalajengking

Banyak penghuni rumah jompo yang menyesali masa mudanya. Karena waktu dihambur-hamburkan, akhirnya terlantar di masa tua.

ANTARA waktu dan kalajengking sebetulnya tak ada hubungannya. Tapi gara-gara pidato Presiden Jokowi yang dipelintir, mau tak mau dipaksa ada hubungannya. Sebab semahal-mahalnya harga bisa kalajengking, masih lebih mahal akan nilai sebuah waktu. Hadits Nabi pun mengungkapkan perlunya umat menghargai waktu.

Saat menyambut Musrembangnas (Musyawaran Perencanaan Pembangunan Nasional) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, akhir April lalu, Presiden Jokowi melempar joke tentang bisa kalajengking seharga Rp 145 miliar perliter. Maka Kepala daerah yang pengin kaya, ternak kalajengking saja, jangan korupsi. Presiden kemudian mengingatkan, “Tapi paling mahal adalah waktu, sebab kini banyak orang tak mau manfaatkan potensi produktivitas. Maka musuh kita nomer satu adalah, buang-buang waktu.”

Soal bisa kalajengking sebenarnya sekedar ilustrasi untuk humor (joke). Tapi belakangan ini rupanya makin banyak orang orang yang kehilangan rasa humornya. Omongan presiden soal kalajengking dianggap serius, padahal mestinya yang harus serius adalah pesan tentang menejemen waktu tersebut.

Menghargai waktu bukan hanya ucapan pejabat publik. Qur’an dan hadits ada menyatakan demikian, tinggal pejabat publik itu yang mengutipnya.  Dalam Qur’an surat Al Ashr ayat 1 Allah Swt berfirman tentang waktu: demi waktu. Ayat itu mengingatkan umat untuk menghargai waktu. Dalam ayat 2 dan 3 pun dijabarkan bahwa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

Hadist Nabi pun mengatakan: “Manfaatkan lima keadaan sebelum datang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa sempatmu sebelum masa sempitmu, masa kayamu sebelum datangnya fakirmu, dan masa hidupmu sebelum datangnya matimu.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaki)

Waktu itu adalah peluang untuk meraih sesuatu, dan Allah Swt memberikan kepada setiap umat manusia. Tinggal kita bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya atau tidak. Sebab meski semua diberi kesempatan yang sama, tapi jeda setiap orang berbeda-beda. Dari sisi umur saja misalnya, ada yang diberi 100 tahun bahkan 1000 taun. Tapi banyak pula yang hanya diberi waktu beberapa hari. Lahir procot ke dunia, beberapa hari kemudian meninggal. Bahkan begitu lahir mati juga banyak.

Umat Nabi Muhammad SAW sekarang, harapan hidup hanya sekitar 60-70 tahun. Karena Nabi sendiri hanya berusia 63 tahun, maka mereka yang berusia lebih dari itu dianggapnya sebagai bonus. Maka bagi orang uang sudah berusia oversek (over seket = lebih dari 50 tahun), sama saja sudah mendekati lampu kuning. Harus bisa memanfaatkan waktu yang tinggal sedikit itu dengan sebaik-baiknya.

Bonus umur beda dengan bonus dari perusahaan. Bonus dari perusahaan berupa uang,  bisa saja dihambur-hamburkan semaunya. Tapi bonus umur, adalah kesempatan untuk berkoreksi diri, memperbaiki kelakuan-kelakuan yang bertentangan dengan ajaran agama. Karena usia 60 tahun adalah ibarat waktu ashar, maka segeralah bertaubatan nasuha, jangan sampai terdengar adzan maghrib masih berpetualang di dunia.

Pepatah Arab juga mengatakan, alwaktu kasaif, yang artinya: waktu itu bagaikan pedang. Jika manusia tak bisa memanfaatkan sebaik-baiknya, akan terlibas oleh waktu itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari banyak manusia semacam itu. Orang sengsara di masa tua karena menyia-nyiakan waktu di masa muda. Mereka pun lalu menyesal, kenapa dulu tidak begini, tidak begitu. Tapi ya begitulah, penyesalan itu selalu hadir di belakang. (Cantrik Metaram).

 

 

 

 

Advertisement