ACEH (KBK) – Banjir dan longsor yang melanda Aceh seminggu terakhir, jangan hanya dilihat karena tingginya frekuensi hujan dan sebuah takdir.
Hal itu disampaikan Direktur Walhi Aceh, M. Nur dalam sebuah talkshow radio di Aceh, Senin (14/12/2015).
Untuk itu, kata M. Nur, desain pembangunan Aceh haruslah dilihat dari keadaan, bukan berdasarkan mimpi besar seperti selama ini terjadi, sehingga kebutuhan dasarnya tidak terurus.
Ditambahkannya, selama ini banyak proyek anggaran puluhan miliar dan banyak tahun yang tidak menguntungkan masyarakat dan lingkungan hidup.
“Bahkan selama ini ada kawasan yang diketahui diketahui berpotensi longsor, tapi dipaksakan pembangunanya, demikian kawasan yang masuk dalam peta rawan bencana justru dikeluarkan izin tambang dan perkebunan kelapa sawit,” ujar M Nur.
M Nur melanjutkan, belakangan ini warga mulai menduduki kawasan hutan, industri dibangun di kawasan terlarang, dan penebangan liar serampangan terjadi.
Lucunya, program yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh sejauh ini hanya program menanam pohon yang tidak terlihat hasil dan manfaatnya bagi masyarakat. Bahkan program seperti itu tidak jauh berbeda dengan kegiatan mahasiswa.
“Jadi apa yang sudah dilakukan tidak menjawab kebutuhan mendasar masyarakat,” tandas M Nur seperti yang dikutip KBK dari Serambi News, Selasa (15/12/2015).





