Wali Songo dan Kisah Dewa Ruci

Religiusitas (keberagamaan) bagi orang Jawa tidak selalu terkait erat dengan agama formal yang dianut seperti Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Religiusitas berkaitan dengan hati,norma dan filsafat hidup seseorang.

Horizon kultural Jawa memang dekat ajaran-ajaran spiritual (sufisme) setiap agama. Karena itu, orang Jawa sangat akomodatif dalam memadukan ajaran –ajaran agama dengan pandangan-pandangan hidupnya, demikian Prof. Dr. Muhammad Bambang Pranowo dalam bukunya “Orang Jawa jadi Teroris”.

Wali Songo, misalnya, memahamai betul karakter orang Jawa sehingga mereka berdakwah dengan menggunakan medium wayang kulit. Kisah Jamus Kalimosodo yang dikaitkan dengan bacaan Kalimat Syahadat adalah sebuah contoh yang kuat. Kisah Dewa Ruci, adalah contoh yang lain.

Lakon Dewa Ruci sangat disukai orang Jawa, apapun agamanya, karena mampu memadukan pandangan Jawa dengan ajaran tasawuf.  Dalam lakon ini dikisahkan Bratasena (Bima waktu masih muda) ingin mendapat ilmu dari sang “guru sejati”, guru gaib, sebagai jalan untuk menyatu dengan  Sang Pencipta.

Setelah mengalami berbagai ujian karena mengikuti nasehat  guru “dunia “nya, Begawan Durna, Bima dapat berjumpa dengan Dewa Ruci, setelah menceburkan diri ke dalam samudera raya. Padahal, Begawan Durna bermasud menjerumuskan dan mencelakai Bima dengan nasihatnya.  Namun, Bima sangat yakin sepenuhnya akan kebenaran ajaran gurunya. Keyakinan penuh yang dilandasi dengan  tekad kuat dan berserah diri kepada Sang Pencipta inilah yang membuahkan hasil.

Dewa Ruci yang rupanya persis dengan Bima tampil dalam bentuk “bocah bajang” (anak berukuran mini).  Ia muncul di dasar samudera dengan “cahaya yang terang benderang, tapi tidak menyilaukan”, (cahyo kang anelahi, ning ora mbalerengi). Besar tubuh Dewa Ruci tidak lebih dari jempol Bima, yang tinggi besar dan gagah perkasa.

Dewa Ruci, menurut ki Dalang, dikisahkan sebagai guru sejati Bima. Guru sejati itu tiada lain adalah “diri pribadi” Bima. “Diri pribadi” adalah cermin yang memantulkan cahaya atau “wewayangan” (bayangan) Tuhan. Ada yang menyebut itu sebagai “Nur Muhammad” (Cahaya Muhammad) atau Cahaya Allah, utusan Tuhan.

Bima takjub ketika Dewa Ruci minta ia masuk ke dalam tubuhnya melalui lubang kuping. Tentu saja, Bima ragu apa mungkin masuk. Keraguan Bima dijawab: “Jangankan dirimu, jagad beserta seluruh isinya dapat masuk ke dalam diriku”. Bima dikisahkan mendapati lapangan luas tak bertepi di dalam tubuh Dewa Ruci.

Lakon ini sering dipakai untuk menjelaskan ajaran “Manunggaling Kawulo lan Gusti”. Bersatunya seseorang (Bima) dengan Guru Sejati ( Dewa Ruci) dengan cara menggulung (menyatukan) “Jagad cilik dengan Jagad gede” atau mikrokosmos dan makrokosmos.

Bima merasa sangat tentram, damai dan betah (krasan) berada di dalam tubuh Dewa Ruci. Ia tidak punya keinginan lain, karena merasa semuanya sudah tercukupi. Ketika ia menyatakan ingin menetap tinggal di dalam tubuh Dewa Ruci, sang Guru Sejati mengatakan Bima harus keluar dari tubuhnya, karena ia masih memiliki banyak tugas di dunia yang fana. Antara lain, memusnahkan  sifat ankara murka yang menjelma sebagai Kurawa lewat Perang Bharata Yudha.

Lakon itu mirip dengan kisah Israj Mi’raj Nabi Muhammad. Setelah merasakan kenikmatan surgawi di haribaaan Allah, Muhammad harus kembali ke dunia nyata untuk membimbing umatnya dalam melakukan “amar ma’ruf nahi munkar” atau berbuat kebaikan dan memerangi kezaliman. Wallahu A’lam bissawab.

 

 

 

 

 

 

Advertisement