TEL AVIV – Wakil Presiden AS Mike Pence tiba di Israel pada hari Minggu (21/1/2018) untuk kunjungan yang akan disambut dengan hangat oleh para pemimpin Israel namun dikecam oleh orang-orang Palestina yang sangat marah dengan kebijakan Yerusalem dari Gedung Putih.
Kunjungan tersebut, yang semula dijadwalkan pada bulan Desember sebelum ditunda, adalah perjalanan terakhir dari sebuah perjalanan yang mencakup perundingan di Mesir dan Yordania serta dihentikan di sebuah fasilitas militer AS di dekat perbatasan Suriah.
Kemarahan Arab atas pengakuan Presiden Donald Trump atas Yerusalem karena ibukota Israel pada 6 Desember telah mendorong pembatalan beberapa pertemuan yang direncanakan menjelang tur Pence.
Presiden Palestina Mahmud Abbas menolak untuk bertemu dengan Pence karena deklarasi tersebut, membuat kunjungannya langka oleh pejabat tinggi AS untuk tidak mengadakan pembicaraan dengan orang-orang Palestina.
Dia akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari ini, Senin (22/1/2018) sebelum berbicara di parlemen negara itu pada sore hari.
Pence mengatakan bahwa dia berharap “Otorita Palestina akan segera kembali terlibat”, sebagaimana dikutip AFP, Minggu malam.
Namun Netanyahu tampak lebih tertarik untuk berbicara dengan Pence mengenai isu lainnya.
“Kami akan membahas upaya pemerintah Trump untuk memblokir agresi Iran dan program nuklir Iran, dan tentu saja, memajukan keamanan dan perdamaian di wilayah tersebut,” katanya menjelang pertemuan kabinet hari Minggu.





