
BANTEN (KBK) – Warga Desa Legok Haur, Kelurahan Pasir Kupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, sulit mendapatkan air bersih. Warga tersebut menggunakan sumur tadah hujan yang berdiameter 3m sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari.
Walaupun dapat digunakan untuk mandi dan mencuci, sumur tersebut tidak dapat menjadi sumber air untuk minum. Pasalnya air yang ada di sumur tersebut berwarna coklat dan bukan berasal dari dalam tanah. Melainkan dari air hujan yang ditampung.
“Kalau kemarau kadang kita suka minta-minta air ke desa lain untuk minum, malu sih sebetulnya, tapi mau gimana lagi,” Ujar Upem (40) warga sekitar yang ditemui KBK saat memandikan anaknya di sumur tadah hujan tersebut.
Menurut warga setempat, Maman Suherman (69) menjelaskan sejak tahun 1992 Desa tersebut sudah mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah untuk menangani kesulitan air bersih tersebut.
“Sampai sekarang sih belum ada bantuan dari pemerintah, warga juga hanya bisa gotong royong bikin sumur tadah hujan saja,” ujar Maman.
Sedangkan Kepala Kelurahan Pasir Kupa, Zainal Abidin mejelaskan bahwa anggaran tahun 2016 akan difokuskan kepada perbaikan jalan dan juga pembuatan sumber air. Perbaikan jalan dianggap perlu agar mobilisasi warga dan juga proyek pembuatan sumber air dapat berjalan dengan mudah.
“Tahun ini saya akan memprioritaskan kepada pengerasan jalan, dan juga pembuatan sumber air di Desa Legok Haur,” pungkasnya.
Selain kesulitan air bersih, warga Pasir Kupa juga masih kekurangan MCK dan jamban. Menurut data yang ada di kantor kepala desa. Hanya ada 15 titik MCK dan Air bersih dari 14 kampung yang ada di Kelurahan Pasir Kupa. Sedangkan dari 6026 warga yang tinggal disana hanya ada 557 rumah yang memiliki jamban. Sedangkan warga yang tidak memiliki jamban menggunakan kebun untuk buang air.




