JAKARTA, KBKNEWS.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap temuan terbaru terkait pencemaran di Teluk Jakarta yakni adanya lima jenis logam berat mencemari sedimen laut, yakni seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd).
Konsentrasi pencemar paling tinggi ditemukan di wilayah pesisir yang berdekatan dengan daratan, kawasan padat penduduk, serta area industri. Temuan ini menunjukkan kuatnya pengaruh aktivitas manusia terhadap penurunan kualitas lingkungan laut di Teluk Jakarta.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani, mengatakan pesatnya urbanisasi dan industrialisasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) memberi tekanan besar terhadap Teluk Jakarta yang memiliki fungsi penting bagi ekonomi, transportasi, dan perikanan.
Berdasarkan analisis berbagai indeks lingkungan, logam seng (Zn) menjadi pencemar paling dominan. Bahkan, kadar Zn, timbal (Pb), dan tembaga (Cu) di sejumlah titik telah melampaui ambang batas standar internasional.
“Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, terutama bagi organisme dasar perairan (bentik) yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen,” ujar Idha dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
BRIN menjelaskan sedimen dasar laut berfungsi sebagai tempat penumpukan polutan yang berasal dari muara sungai, limbah domestik, hingga aktivitas pelabuhan. Karena sulit terurai, sedimen tersebut dapat menjadi sumber pencemaran jangka panjang dan sewaktu-waktu melepaskan kembali logam berat ke perairan.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN lainnya, Lestari, menyoroti risiko logam berat masuk ke rantai makanan laut. Berdasarkan metode Risk Assessment Code (RAC), logam Zn di hampir seluruh titik pengamatan memiliki potensi tinggi terserap organisme laut.
“Logam berat yang terserap dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, terutama kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya. Jika organisme tersebut dikonsumsi manusia secara terus-menerus, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang,” jelas Lestari.
Sementara itu, periset dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Rachma Puspitasari, menemukan adanya akumulasi kadmium (Cd) pada jaringan kerang hijau.
“Karena itu, pencemaran logam berat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut,” kata Rachma.
BRIN menilai penanganan pencemaran Teluk Jakarta memerlukan langkah terpadu dari hulu hingga hilir, mulai dari pengendalian limbah industri, perbaikan pengolahan limbah domestik, hingga edukasi masyarakat terkait konsumsi hasil laut agar ekosistem tetap terjaga dan pangan laut aman dikonsumsi.





