Warga Bukit Duri Tidak Mau Pindah ke Rusun karena Harus Bayar

Ilustrasi UNJUK RASA - Meski nyaris tanpa perlawanan, pengusuran di Bukit Duri tetap diwarnai aksi unjuk rasa damai. Warga Bukit Duri yang menolak penertiban membawan spanduk untuk menyampaikan aspirasinya, Rabu (28/9/2016). Foto:Jun Adtya/KBK

JAKARTA – Hingga penggusuran sudah dilakukan, warga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan mengaku tidak mau pindah ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Rawa Bebek, Jakarta Timur karena harus membayar sewa setiap bulannya.

“Saya tak mau pindah ke rusun, di sana itu kami hanya dikasih gratis tiga bulan, sisanya kami disuruh sewa Rp350 sampai Rp500 ribuan per bulan,” kata salah seorang warga, Leni di lokasi penggusuran, Rabu (28/9/2016), dikutip dari sindonews.

Selain itu, anaknya akan bersekolah lebih jauh, “Belum kalau untuk transportasi ke Rawa Bebek ke Jatinegara, tempat usaha suami gimana? Lalu anak-anak sekolah?” tanya Leni.

Ici (48) warga lainnya yang masih tampak terpukul dan terus menangis mengungkapkan jika rumah yang sudah ditempati puluhan tahun tersebut dibeli dengan hasil jerih payahnya sendiri.

“Saya cuma mau lihat rumah saya digusur. Karena itu satu-satunya rumah saya. Tapi sama Polwan, saya ditarik dan tidak boleh melihatnya,” katanya sambil menangis.

Dia mengaku lebih rela jika rumahnya tersebut dibongkar oleh dirinya sendiri daripada oleh petugas. Dia pun hendak melihat rumah kesayangannya itu untuk yang terakhir kalinya saat dibongkar petugas.

“Allahu Akbar. Allah tidak tidur, Allah akan balas semua perbuatan kejam Gubernur tukang gusur itu. Jangan kira kau orang berduit akan hidup tenang di akhirat nanti,” tegasnya seraya menangis.

Advertisement