
LONJAKAN harga pangan dan energi global akibat dampak pandemi Covid-19, perubahan iklim dan perang antara Rusia dan Ukraina bisa berimbas pula pada kenaikan harga-harga dan perekonomian domestik.
Pada saat perekonomian dunia belum bangkit sepenuhnya dari keterpurukan akibat Covid-19, terjadi perang di wilayah Ukraina akibat invasi Rusia yang berlangung sejak 24 Februari lalu.
Menurut Kepala Badan Pusat Statisik (BPS) Margo Yuwono (2/6), perang Rusia-Ukraina dan pembatasan yang dilakukan oleh sejumlah negara produsen membuat harga pangan seperti gandum, kedelai, jagung, daging dan pupuk, sawit mentah (CPO) serta gas bumi naik.
IMF sendiri merevisi proyeksi inflasi global 2022 dari 3,9 persen ke 5,7 persen untuk negara-negara maju dan 5,7 persen ke 8,7 persen di negara-negara berkembang.
Sementara BPS melaporkan, imbas kenaikan harga pangan dan energi global tercermin dari tingkat inflasi bulanan 0,4 persen pada Mei dan 3,55 persen inflasi tahunan atau masih dalam kisaran target BI antara tiga dan empat persen.
Tarif angkutan udara berkontribusi besar pada inflasi bulanan (0,07 persen), telur ayam ras 0,05 persen, ikan segar dan bawang merah  0,04 persen, sedangkan minyak goreng yang menyumbang 0,19 persen inflasi pada April, mengalami deflasi, 0,01 persen, Mei.
Sementara harga minyak goreng domestik dipengaruhi kenaikan harga CPO global, namun kemudian, berkat larangan ekspor CPO dan turunannya antara 28 April dan 22 Mei, harganya mulai turun sehingga berkontribusi pada deflasi pada Mei.
 Masa Sulit Eropa  Â
Benua Eropa, terutama negara-negara anggota Uni Eropa (UE) yang selama ini menikmati stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi, ke depannya bakal menghadapi berbagai tantangan.
Eropa dibayangi ancaman migrasi penduduk dari Eropa Timur, Asia Tengah, Timur Tengah dan Afrika, meredupnya kejayaan industri ditambah dampak perang antara Rusia dan Ukraina.
Sejumlah paket sanksi ekonomi yang dijatuhkan UE pada Rusia akibat invasi yang dilakuknnya pada Ukraina, di sisi lain juga menjadi bumerang bagi negara-negara anggota UE yang bergantung pada pasokan energi (minyak bumi dan gas Rusia).
Menurut catatan, harga makanan, tembakau dan alkohol di negara-negara UE naik 4,1 persen Februari lalu, lebih tinggi dari kenaikan akibat pandemi Covid-19 pada Januari, 2022.
Perusahaan asuransi, Allianz bahkan memperkirakan, situasi terburuk terkait harga pangan akan dialami UEÂ dengan kenaikan rata-rata 243 Euro (sekitar Rp3,8 juta) untuk anggaran makanan per orang per tahun.
Manta Dubes Perancis untuk Rusia, Jean de Gliniasty menyebutkan, sanksi Barat yang dikenakan terhadap Rusia justeru merugikan perekonomian UE ketimbang bagi AS.
“Sanksi terhadap Rusia sangat membebani UE (mengingat sebagian anggotanya bergantung pada energi dari Rusia), menguntungkan China dan sama sekali tidak merugikan AS, “ ujar de Gliniasty.
Situasi Dalam Negeri
Sementara Indonesia, kenaikan harga-harga terutama sembako agaknya sulit dielakkan akibat dampak Covid-19 yang belum berakhir, perubahan iklim (pemunculan La Nina) dan juga dampak situasi global.
Yang jadi masalah, lonjakan harga-harga bisa dipolitisir oleh para penunggang gelap politik untuk memprovokasi rakyat yang memang rendah literasi politiknya sehingga gampang dihasut.
Selain menekan dampak lonjakan harga termasuk dengan pemberian berbagai skim program jaminan perlindungan sosial (Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Sembako, Modal Usaha dan lainnya, literasi politik rakyat juga harus terus ditingkatkan.
Apalagi, Indonesia saat ini sudah memasuki tahun politik, menjelang Pemilu dan Pilpres 2024 dimana kubu-kubu para calon kontestan sudah mengambil ancang-ancang untuk memenangkan kontestasi politik.
Awas, muncul penunggang gelap di tengah himpitan ekonomi!




