Waspada! Kurang Vitamin D Picu Autoimun

Ilustrasi. (Foto: istockphoto)

JAKARTA – Autoimun menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti karena sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi, malah menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Penyebab penyakit ini sangat penting untuk dipahami dan diatasi dengan baik.

Vitamin D erat kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh seseorang. Jika kadarnya terlalu rendah, tubuh lebih mudah terkena penyakit. Penyakit autoimun menjadi salah satu akibat yang dirasakan tubuh saat kekurangan kadar vitamin D.

Studi dari Universitas McGill di Montreal, Kanada, menjelaskan mengapa kekurangan vitamin D pada masa awal kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit autoimun.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menunjukkan bahwa selama masa kanak-kanak, kelenjar timus berperan melatih sel-sel imun untuk membedakan antara jaringan tubuh sendiri dan ancaman berbahaya. Kekurangan vitamin D pada masa ini menyebabkan penuaan dini pada kelenjar timus.

“Timus yang menua menyebabkan sistem imun yang ‘bocor’,” kata penulis utama John White, seorang Profesor dan Ketua Departemen Fisiologi McGill, dilansir dari Medical Xpress,

Profesor White menjelaskan bahwa timus yang kurang efektif membuat sistem kekebalan gagal menyaring sel-sel imun yang keliru menyerang jaringan sehat, sehingga meningkatkan risiko penyakit autoimun, seperti diabetes tipe 1.

Dia juga mencatat bahwa selama bertahun-tahun, para peneliti telah mengetahui bahwa vitamin D penting untuk penyerapan kalsium yang diperlukan untuk kekuatan tulang, dan penelitian terbaru menunjukkan peran pentingnya dalam mengatur sistem kekebalan.

“Temuan kami memberikan kejelasan baru pada hubungan ini dan dapat mengarah pada strategi baru untuk mencegah penyakit autoimun,” katanya.

Meskipun penelitian ini dilakukan pada tikus, temuan tersebut relevan bagi kesehatan manusia karena fungsi timus serupa pada kedua spesies, kata White.

Temuan ini juga menyoroti pentingnya memastikan asupan vitamin D yang cukup, terutama bagi anak-anak.

“Jika Anda memiliki anak kecil, penting untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk memastikan mereka mendapatkan cukup vitamin,” tuturnya.

Penemuan ini melanjutkan penelitian dari Finlandia pada tahun 2001, yang melibatkan lebih dari 10.000 anak. Studi tersebut menemukan bahwa anak-anak yang diberi suplemen vitamin D sejak dini memiliki risiko lima kali lebih rendah terkena diabetes tipe 1 di kemudian hari.

Dalam studi di McGill, peneliti menggunakan tikus yang tidak dapat memproduksi vitamin D untuk melihat dampaknya terhadap timus, menggunakan analisis sel dan pengurutan gen untuk memahami pengaruhnya terhadap sistem kekebalan tubuh.

Ke depan, Profesor John White berharap dapat meneliti bagaimana vitamin D memengaruhi timus manusia, sesuatu yang menurutnya belum pernah dilakukan sebelumnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here