Waspada longsor dan Banjir Bandang di Lereng Gunung Raung-Argopuro

Ilustrasi Longsor

JEMBER – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mengimbau masyarakat yang berada di lereng Pegunungan Argopuro dan Gunung Raung mewaspadai bencana tanah longsor dan banjir bandang di kawasan setempat.

“Berdasarkan data peta dari Kementerian ESDM mencatat sejumlah lokasi yang kemiringannya lebih dari 70 derajat di lereng Pegunungan Argopuro dan Gunung Raung berpotensi terjadi tanah longsor dan dapat menyebabkan banjir bandang dengan tingginya curah hujan intensitas tertentu,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Mahmud Rizal di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (27/10/2016).

Prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda menyebutkan musim hujan di Kabupaten Jember dimulai awal Oktober 2016 hingga Januari 2017, namun puncak curah hujan terjadi pada Desember 2016 hingga Januari 2016.

“Puncak curah hujan di Jember memiliki intensitas yang cukup tinggi dengan kisaran 200-500 milimeter, sehingga retakan-retakan tanah labil yang berada di lereng gunung berpotensi terjadi tanah longsor yang harus diwaspadai masyarakat yang berada di bawahnya,” tuturnya.

Adapun beberapa daerah yang berada di sabuk Pegunungan Argopuro dan Gunung Raung diantaranya Kecamatan Arjasa, Jelbuk, Sumberjambe, Silo, Mayang, Sukorambi, Panti dan Sumberbaru. Semuanya sudah mendapatkan skala prioritas untuk terus dipantau oleh tim BPBD Jember.

“Masyarakat yang berada di sekitar lereng gunung tersebut harus meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan, apabila hujan yang turun lebih dari tiga jam dengan intenstitas yang cukup tinggi,” imbaunya, dilansir Antara.

Selain longsor, potensi banjir bandang juga dapat terjadi di lereng gunung tersebut, sehingga pihak BPBD Jember akan melakukan pemantauan selama 24 jam ketika hujan deras turun selama beberapa jam di sana.

“Kawasan hilir juga perlu diwaspadai terjadinya banjir pada puncak curah hujan nanti seperti wilayah selatan di Kecamatan Kencong hingga Tempurejo karena ada tiga daerah aliran sungai (DAS) besar yang terus dipantau yakni DAS Tanggul, Bedadung, dan Mayang,” ujarnya, menambahkan.

BPBD Jember menetapkan status siaga bencana alam sejak 1 Oktober 2016 seiring dengan mulainya musim hujan yang mengguyur kabupaten setempat.

Advertisement