spot_img

Waspada! Maluku Rawan Gempa!

GEMPA susulan yang terjadi sepanjang tiga hari berturut-turut di wilayah Ternate, Maluku Utara sejak Minggu (7/7) lalu harus tetap diwaspadai walau sejauh ini tidak memicu gelombag laut atau tsunami.

BMKG melaporkan, gempa dengan epicentrum di laut berkekuatan 5,7 SR pada lokasi 0,41 Lintang Utara dan 126,30 Bujur Timur berjarak 125 km arah barat daya Ternate, Maluku Utara dengan kedalaman 10 km terjadi lagi, Selasa (9/7) pukul 01.52 WIB atau 03.52 WIT.

Sebelumnya sejak Minggu lalu hingga Senin siang telah terjadi 48 gempa yang juga berpusat di laut di wilayah tersebut yang berkekuatan antara 3,1 SR hingga 7,1 SR.

Warga yang tinggal di pesisir sempat panik sehingga berhamburan menuju lokasi ketinggian selang beberapa detik setelah gempa akibat isu bakal terjadi tsunami.

Sementara menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dari hasil pemindaian instasinya, gempa memang berpotensi tsunami pada level “WASPADA” terutama bagi wilayah Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian selatan.

Namun kemudian dikonfirmasi tidak ada anomali berdasarkan pemantauan muka laut di enam stasiun tidal gauge (detektor gelombang) yakni di Bitung, Tobelo, Ternate, Tailabu, Jailolo dan Sanana sehingga peringatan dini tsunami dihentikan, Selasa (8/7) pukul 02.09 WIT.

Menurut Rahmat, sumber gempa tergolong dangkal, dipicu deformasi kerak bumi pada lempeng Laut Maluku, sedangkan gempanya sendiri memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) akibat tekanan lempeng mikro Halmahera ke arah barat dan lempeng mikro Sangihe ke arah timur yang membuat lempeng laut Maluku terjepit dan membentuk subduksi ganda ke bawah Halmahera dan Sangihe.

Menurut kajian sebelumnya oleh Hamzah Latief, Nanang Puspito dan Fumihiko Imamura dalam Journal of Natual Disaster Science (2000), antara tahun 1600 hingga 1999 terjadi 105 kali tsunami di Nusantara, 32 kali diantaranya (30,8 persen) melanda Laut Maluku dengan korban 7.756 orang tewas.

BMKG Stasiun Geofisika Ternate sendiri mencatat, terjadi 862 kali gempa di wilayah itu selama 2016, 852 kali pada 2017 dan 903 kali selama 2018.

Mengingat riwayat panjang terkait kegempaan dan tsunami di wilayah itu, aksi mitigasi harus terus diperkuat demi menekan korban jika sewaktu-waktu terjadi bencana akibat fenomena alam itu.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles