Waspada! “Outbreak” Corona Akhir April

Jika masih ada yang "ngeyel" tidak mematuhi seruan jaga jarak (social/physical distancing) dan program rapid test gagal, sejumlah peneliti dan pihak asing memperkirakan, bisa terjadi outbreak atau ledakan koban terpapar Covid-19 di Indonesia pada akhir April nanti. Jangan panik atau lebai, tapi juga tidak taqabur. Mari kita bahu-membahu mencegahnya!

KEWASPADAAN dan langkah-langkah lebih kongkret dan terukur harus terus dilipatgandakan guna menekan potensi  “outbreak” atau ledakan pandemi virus corona (Covid-19) yang diprediksi akan mencapai puncaknya akhir April.

Jika ada yang tetap “ngeyel” atas seruan untuk menjaga jarak (social distancing atau lebih pas physical distancing ) dan program rapid test yang mulai digencarkan pemerintah gagal, kata Peneliti Penyakit dan Biosstatistik Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Iqbal Ridzi, korban terpapar Covid-19 akhir April nanti bisa menembus 70-ribuan.

Penelitian tim Iqbal mengacu dari pola penggandaan Covid-19 di negara-negara dengan sebaran dan korban kematian (fatality rate) tertinggi di luar China yang menjadi epicentrum pandemi yakni Iran dan Italia yang berkisar antara lima sampai tujuh hari.

Alasannya, pola penggandaan jumlah korban positif terinfeksi Covid-19 secara signifikan atau eksponensial seperti terjadi di kedua negara tersebut  terjadi dalam periode lima sampai tujuh hari.

Melalui kebijakan “lockdown” yang diberlakukan secara keras, China berhasil menekan penggandaan menjadi 31 hari dan metode “social distancing” dan aksi pendeteksian massal oleh Korsel (terhadap hampir 300-ribu orang),   bisa ditunda sampai 13 hari.

Bagaimana dengan Indonesia? Jumlah kasus Covid-19 melonjak dua kali lipat dalam tiga hari, melonjak dari 172 diagnosis positif pada 17 Maret menjadi 369 pada 20 Maret.

“Makin pendek periode penggandaan, Makin berbahaya,” kata Iqbal seperti dikutip The Jakarta Post baru-baru ini. Sampai Kamis (26/3) di Indonesia tercatat 893 korban positif terpapar Covid-19, sebanyak 78 diantaranya meninggal dan 35 sembuh.

Separuh Warga Jakarta Bisa Terpapar

Sementara itu, Profesor Hadi Susanto dari Jurusan Matematika Terapan Universitas Essex, UK bahkan memperkirakan, sekitar separuh warga DKI Jakarta (lima jutaan) berpotensi terpapar Covid-19 karena banyak yang mengabaikan seruan pemerintah tentang social/physical distancing.

“Ini prediksi pesimistis saya, dibentuk dengan model matematika sederhana dan tentu saja saya berharap, itu salah,” katanya.

Perkiraaan jumlah korban Covid-19 bisa mencapai 70-ribuan orang juga disebutkan dari hasil penelitian tim Pusat Permodelan dan Simulasi Matematika ITB yang dipimpin oleh Nuning Nuraini.

Pakar-pakar kesehatan dunia, seperti dikutip Reuters, juga mengingatkan kemungkinan outbreak pandemi Covid-19 di Indonesia, mengingat sistem layanan kesehatan yang kurang memadai, seperti terjadinya defisit BPJS dan minimnya RS dan fasilitas yang dibutuhkan.

Di awal-awal pandemi Covid-19 (Jan. – Feb.) , pihak asing juga meragukan otoritas kesehatan RI yang menyatakan, belum ditemukan kasus-kasus infeksi virus tersebut, padahal negara-negara maju dengan layanan kesehatan lebih tinggi seperti anggota UE, Jepang dan Korsel sudah terjangkiti.

Tentu tidak perlu lebai atau memolitisasi seolah-olah pemerintah menyembunyikan fakta, karena memang saat itu benar-benar belum ada korban, dan jika ternyata ada, mungkin karena program  pendeteksian belum dilakukan secara massif.

Kasus pertama korban positif terinfeksi Covid-19 baru terkonfirmasi pada 2 Maret dengan dua korban (perempuan usia 64 dan puterinya berusia 31) yang melakukan kontak fisik dengan orang terinfeksi Covid-19 lainnya, diduga  dalam acara dansa).

Salah satu indikasi seriusnya potensi outbreak Covid-19 adalah rencana evakuasi oleh kantor perwakilan Amerika Serikat di Indonesia terhadap sejumlah stafnya.

Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19/Ketua BNPB Dony Monardo juga mengakui, program rapid test yang mulai digencarkan di satu sisi juga bisa menghasilkan pelipatgandaan jumlah orang yang positif mengidap Covid-19.

Di tengah angka-angka prediksi yang cukup mencemaskan, tetap tidak perlu panik, tingkatkan pola hidup sehat, ikuti seruan pemerintah, terus berikhtiar dan berserah diri pada- Nya.

Perlu juga diingatkan, ikhtiar sesuai sunatullah, jadi jelas bukan berarti tidak meyakini kuasa dan kebesaran Tuhan, sebaliknya abai terhadap bahaya yang sudah di hadapan mata, bisa juga disebut taqabur.

Anda belum tentu mati jika kecemplung di kandang buaya sekali pun atau  bisa tetap selamat walau ugal-ugalan berkendara di jalanan raya,  tetapi dengan mengabaikan seruan jaga jarak, bisa jadi anda merugikan orang lain.

Waspada! dan waspada lah,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement