Waspada! Superflu yang Menjagkiti AS

Dalam sepekan terakhir ini sampai (28/12) sudah sekitar 71.000 warga New York, AS terjangkit superflu (H3N2)) dan kemungkinan juga sudah masuk Indonesia (foto:Reuters)

VARIAN baru influenza A (H3N2) Subclade K atau yang kerap disebut ‘super flu’ merebak di wilayah Amerika Serikat, memicu kekhawatiran global dan kemungkinan juga sudah masuk Indonesia mengingat terbukanya akses Indonesia di perlintasan internasional.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp A, Subsp Respi(K), menyebut kemungkinan virus H3N2 masuk sangat besar, mengingat Indonesia bukanlah negara yang  terisolasi dari lalu lintas global.

Berkaca dari berbagai pengalaman penyakit pernapasan sebelumnya, penyebaran virus lintas negara hampir selalu terjadi.

“Cepat atau lambat penyakit itu akan sampai di Indonesia. Jadi, semakin dekat ya semakin besar kemungkinannya,” ucapnya dalam media briefing, seperti dikutip Detikhealth Senin (29/12).

Ia bahkan menilai besar kemungkinan virus tersebut sudah ada di Tanah Air, mengingat tingginya jumlah penumpang internasional yang berdatangan setiap hari, baik dari Amerika Serikat, Eropa, Kanada, maupun negara-negara Asia seperti Singapura, Malaysia, hingga China.

 Terbatas skrining gejala

dr Nastiti menjelaskan, saat ini pemeriksaan di pintu masuk negara masih terbatas pada skrining gejala, seperti demam atau gangguan pernapasan.

Tidak semua bandara menerapkan pemindaian suhu tubuh (thermal scanning), sehingga bila penumpang tidak melaporkan kondisi kesehatannya secara jujur, potensi lolos dari pemantauan tetap ada.

“Ketika itu sudah sampai Singapura atau Malaysia, itu akan cepat sampai di Indonesia. Pasti akan, kalau ditanya sekarang sudah ada atau belum kemungkinan, sudah ada,” lanjutnya.

Ia menambahkan, sejumlah rumah sakit sebenarnya sudah melakukan pemeriksaan influenza untuk membedakan influenza A dan B.

Namun, pemeriksaan tersebut tidak sampai mendeteksi subvarian, seperti Subclade K, karena membutuhkan fasilitas laboratorium canggih dengan genomic sequencing.

Dari sisi penanganan klinis, dr Nastiti menekankan jenis varian influenza tidak mengubah terapi pengobatan. Pasien tetap diberikan obat yang sama seperti influenza pada umumnya.

Sementara itu, menurut Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengatakan hingga November 2025 belum ditemukan kasus flu akibat infeksi subclade K.

“Di Indonesia bersirkulasi Influenza A seasonal, dominasi subtipe H3N2 dan H1N1pdm09. Periode Mei 2025 sampai dengan November 2025 didominasi sirkulasi H3N2,” kata Aji saat dihubungi detikcom, Sabtu (27/12).

Gejala suoprflu a.l demam tinggi, nyeri tubuh hebat, kelelahan ekstrem, batuk berkepanjangan, sakit tenggorokan, sakit kepala berat, sesak napas dan nyeri dada walau sejauh ini tidak mematikan.

“Berdasarkan hasil genomik/WGS virus influenza oleh NIC: didominasi H3N2 clade 3C.2a. Hasil WGS tersebut menunjukkan bahwa tidak ditemukan clade baru atau varian yg berbeda dari varian yang bersirkulasi di global dan masih dalam strain vaksin influenza rekomendasi WHO,” sambungnya.

Upaya pencegahan, mulai dari mengenakan masker, sering mencuci tangan dan hidup bersih dan tertib harus terus dibiasakan agar wabah penyakit apa pun tidak berkembang seperti Covid-19 yang menjadi pandemi global antara Desember 2019 sampai medio 2023.

Waspada dan waspada!

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here