Waspadai Osteoporosis, Silent Killer yang Kerap Tak Terdeteksi

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

JAKARTA – Osteoporosis merupakan jenis gangguan kesehatan yang menyerang tulang. Kondisi ini terjadi akibat kualitas kepadatan tulang menurun. Pada tahap awal, osteoporosis sering tidak terdeteksi dan tidak disadari.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) Dr. dr. Tirza Z. Tamim Sp. K.F.R, mengatakan masyarakat perlu menyadari bahwa osteoporosis seringkali tidak menimbulkan gejala yang dirasakan secara langsung, sehingga disebut sebagai “silent killer”.

“Ini gejala yang ‘silent’, kadang tanpa ada gejala, sehingga harus selalu ‘aware’ dengan gejalanya, misal sudah sakit nyeri di sendi, tulang punggung, rupanya sudah terjadi patah tulang,” kata Tirza dilansir dari Antara.

Tirza menjelaskan, osteoporosis, yang juga dikenal sebagai pengeroposan tulang, terjadi karena rongga di dalam tulang membesar, menyebabkan tulang menjadi rapuh dan rentan terhadap patah tulang.

Hal ini, kata dia, bisa mengakibatkan berbagai komplikasi seperti perubahan bentuk tulang, seperti bungkuknya tulang belakang atau tinggi badan yang berkurang, yang merupakan tanda-tanda osteoporosis.

Penyebab osteoporosis antara lain adalah kurangnya aktivitas fisik yang melibatkan stres pada otot dan tulang, gaya hidup tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan memiliki berat badan di bawah indeks masa tubuh yang normal, serta faktor genetik dari keluarga.

Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu dan kondisi medis tertentu seperti diabetes, hipertiroidisme, atau penyakit ginjal juga dapat meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis.

“Minum steroid, anti depresan, anti epilepsi itu bisa menimbulkan keropos tulang, kurang kalsium, vitamin D, perokok dan minum alkohol, diabetes, hipertiroid, penyakit ginjal, itu semua bisa jadi faktor penyebab keropos tulang,” katanya.

Untuk mencegah osteoporosis, disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi protein, kalsium, dan vitamin D, serta rutin melakukan latihan fisik. Pemeriksaan kadar kalsium dan kepadatan tulang juga dapat dilakukan di fasilitas kesehatan.

“Latihan fisik dua kali seminggu, latihan keseimbangan 15-20 menit dua jam per minggu, aerobik 3-5 kali agar seminggu bisa sampai 150 menit dengan intensitas sedang,” tuturnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here