WHO: Jangan Berlebihan Menilai Vaksin

Kepala Badan Keshatan Dunia (WHO)Thdreos Adhanom Ghebreyesus mengingatkan agar orang tidak menganggap khasiat vaksin Covid-19 secara berlebihan. Jaga Protokol kesehatan (3M) adalah yang terbaik!

KEPALA Badan Kesehatan Dunia ( WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dari Jenewa mengingatkan pada warga dunia agar tidak berlebihan, menganggap  vaksin Covid-19 bisa langsung menghentikan pandemi virus tersebut.

“Vaksin merupakan pelengkap cara pengobatan atau obat-obatan lain yang ada, bukan menggantikannya,” kata Tedros dikutip AFP (16/11).

Tedros mengatakan, pasokan vaksin Covid-19 jika sudah tersedia nanti awalnya akan digunakan secara terbatas, diprioritaskan bagi tenaga kesehatan, kaum lansia dan kelompok populasi lainnya yang lebih berisiko terpapar virus corona SARS-CoV2 penyebab Covid-19.

Dengan demikian, lanjutya, vaksin diharapkan akan mengurangi jumlah kematian dan memungkinkan sistem kesehatan di suatu negara untuk mengatasinya, walau ia mewanti-wanti, kehadirannya masih akan menyisakan banyak ruang bagi virus corona untuk menginfeksi manusia.

“Pengawasan tetap perlu dilanjutkan. Orang-orang masih perlu dites, diisolasi dan dirawat, kontak masih perlu dilacak  dan individu yang terpapar tetap perlu dirawat,” ujarnya.

Kehadiran vaksin Covid-19 ditunggu-tunggu mengingat sejak terdeteksi di kota Wuhan, China, medio Desember lalu sampai kini sudah 55 juta lebih penduduk di 226 negara terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dan sekitar 1,3 juta lebih diantaranya meninggal.

Selain perusahaan Moderna (AS) dan Pfizer/BioNTech (AS/Jerman), sejumlah bakal  vaksin lainnya  hasil pengembangan Institut Riset Gamaleya (Rusia), AstraZeneca dan Oxford University (Inggeris dan Swedia),Institut Biologi Wuhan dan Sinopharm (China), Sinovac Biotech(China) serta Institut Produk Biologi Beijing dan Sinopharm (China) saat ini juga sudah mencapai tahap III uji klinis.

Indonesia sendiri melalui PT BIofarma, Bandung bermitra dengan Sinovac, China mengembangkan vaksin dengan menyelesaikan uji klinis tahap III yang kedua kalinya, melibatkan masing-masing sekitar 1.600 relawan.

Jika seluruh rangkaian uji klinis berhasil, diharapkan awal Januari sudah bisa digunakan secara darurat (Emergency use authorization seizin Badan POM) untuk memvaksinasi sembilan juta orang. (AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement