NEW YORK – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan satu dari 10 obat yang dijual di negara-negara berkembang adalah obat palsu dan mengakibatkan kematian puluhan ribu orang.
Diantara puluhan ribu orang tersebut kebanyakan korban adalah anak-anak di Afrika yang mendapatkan pengobatan tak efektif untuk pneumonia dan malaria.
Dilansir Reuters, beberapa perusahaan farmasi di Afrika mengatakan mereka cenderung membeli obat dari penjual yang menawarkan harga termurah, namun belum tentu paling aman.
Obat-obat palsu biasanya tidak tepat dosis, tidak menggunakan bahan-bahan yang benar atau malah sama sekali tidak memiliki bahan-bahan yang aktif.
Sebuah analisis WHO, yang dikumpulkan dari 10 studi yang berlangsung sejak 2007 hingga 2016 dan mencakup lebih dari 48.000 sampel, menunjukkan 10.5 persen obat-obatan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah adalah obat-obatan palsu atau tidak memenuhi standar.
Sebuah tim dari Universitas Edinburgh, yang ditugaskan WHO untuk mempelajari dampak obat palsu, menghitung sebanyak 72 ribu kematian anak-anak akibat pneumonia ,bisa diakibatkan oleh penggunaan antibiotik yang sudah berkurang keaktifannya untuk mengobati penyakit. Bila antibiotik yang digunakan tidak memiliki zat aktif sama sekali, jumlah kematian bisa mencapai 169 ribu.
Obat kualitas rendah juga meningkatkan bahaya resistensi antibiotik, yang mengancam kekuatan obat penyelamat hidup di masa depan.
Sejak 2013, WHO telah menerima 1.500 laporan produk-produk palsu dan kualitas rendah. Obat antimalaria dan antibiotik adalah yang paling banyak dilaporkan.
Peredaran obat palsu di Sub-Sahara Afrika menyumbang 42 persen dari semua laporan. Tidak ada laporan global mengenai data obat palsu ini sebelum 2013.





